Oleh : Zidni Saadah

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (TQS. Al Ahzab: 21)

Sunnah beliau adalah sumber hukum bagi umat Muslim setelah Kitabullah. Menolak sunnah Rasulullah sama artinya melakukan penolakan terhadap Al Qur'anul Karim, menolak terhadap perintah dan larangan Allah SWT. Karenanya ketaatan pada Rasulullah saw setara dengan ketaatan pada Allah SWT.

"Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."(TQS. An Nisaa : 59)

Di masa lalu, Rasulullah saw tak pernah membiarkan para sahabatnya jika mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan sunnah beliau. Baik mengurangi atau menambah-nambahkannya. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa suatu ketika datang tiga orang pria ke rumah istri-istri Rasulullah saw dan bertanya tentang ibadah beliau. Ketika mereka telah mendapat penjelasan dari para istri Nabi saw, mereka berkomentar, "Bagaimana keadaan kita sekarang dibandingkan Nabi saw, sementara beliau telah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun yang akan datang?" Salah seorang dari mereka kemudian berkata bahwa ia akan sholat malam terus-menerus, sementara orang kedua mengatakan bahwa dirinya akan berpuasa pada siang hari dan tidak akan berbuka, sedangkan yang terakhir mengatakan bahwa ia akan menjauhi wanita, tidak akan menikahi mereka selamanya. Maka datanglah Rasulullah saw kepada mereka dan berkata: 

" Apakah kalian yang mengatakan seperti ini dan seperti itu? Demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan bertaqwa kepada Allah dibandingkan kalian, akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku sholat dan aku istirahat dan aku juga menikahi wanita. "

Bagi orang beriman tidaklah boleh ada keraguan sedikitpun bahwa Rasulullah saw adalah uswatun hasanah. Tidak ada teladan yang lebih baik selain beliau. Seluruh kelengkapan hidup yang paripurna dan keteladanan dalam kebaikan apapun ada pada diri Rasulullah saw.

Bagi manusia, khususnya seorang Muslim, tidak akan tersesat manakala dirinya berpegang teguh pada kedua sumber hukum ini, yakni Kitabullah dan Sunnahnya. Hal ini, sesuai dengan apa yg sudah Rasulullah wasiatkan. 

"Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, tidak akan kalian tersesat jika berpegah teguh pada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Nabinya (HR. Imam Malik).

Pantaslah jika kemajuan dan kejayaan umat Muslim sangat ditentukan oleh seberapa kuatnya mereka menggenggam dua wasiat ini. Sebaliknya, kemunduran dan kerusakan yang kini menimpa umat adalah dampak dari lepasnya Al Quran dan Sunnah Rasulullah saw dari tangan umat ini.

"Siapa yang berpaling dari sunnahku maka bukanlah golonganku."

Rumah Tangga Rasulullah
Berbagai masalah rumah tangga yang kini terjadi, seperti konflik suami-istri, adalah buah dari matinya sunnah Rasulullah saw dalam kehidupan keluarga muslim modern.

Misi dari rumah tangga benarlah untuk melestarikan keturunan dan menjaga kesucian pria dan wanita. Namun, agama juga menuntun setiap manusia dengan aneka etika pernikahan agar terwujud sakinah, mawaddah dan rahmah. Sehingga rumah tangga muslim tidak sekedar menjadi "pabrik" anak, tapi juga menjadi hiburan yang menyenangkan bagi seluruh penghuninya. 

Inilah yang diwujudkan oleh Rasulullah saw bersama para istri beliau dalam rumahnya yang sangat sederhana. Perilaku beliau begitu lembut dan bijaksana. Ketika para sahabat bertanya kepada Aisyah ra mengenai akhlaq beliau, Aisyah hanya bisa menjawab, "Akhlaqnya adalah Al Quran"

Ketenangan tidak datang hanya dari kelembutan, tapi juga dari dekatnya sebuah keluarga pada Allah. Rasulullah selalu mengajak keluarganya untuk banyak beribadah kepada Allah, terutama dalam melaksanakan qiyamul lail. Seringkali Rasul mengetuk pintu rumah Ali dan Fathimah mengingatkan mereka melaksanakan sholat malam. 

"Allah menyayangi suami yang bangun di malam hari kemudian sholat, lalu ia membangunkan istrinya maka sholatlah ia. Jika istrinya tidak bangun maka ia memercikan air ke wajahnya. Allah pun menyayangi wanita yang bangun di malam hari kemudian melaksanakan sholat, kemudian ia membangunkan suaminya, maka sholatlah ia. Jika ia tidak bangun maka sang istri memercikan air ke wajahnya" (HR.Turmudzi).

Hal lainnya, indahnya rumah tangga Rasulullah saw jauh dari kebencian dan kemarahan, apalagi kata-kata yang menyakitkan. Anas bin Malik yang bekerja membantu rumah Rasulullah saw selama 10 tahun menuturkan bahwa tak pernah terdengar kata-kata 'cis' atau penghinaan dan kasar lainnya. Pernah saat beliau pulang larut malam dan pintu rumah tidak dibukakan oleh Aisyah yang tidur kelelahan, beliau tidak marah tapi dengan tenang tidur di depan pintu rumah. 

Ini bertolak belakang dengan sikap sebagian suami yang temperamental dalam menghadapi masalah-masalah rumah tangga. Mudah ngambek, mengeluarkan kata-kata kasar dan ringan tangan, bila sang istri melakukan kesalahan.

Rasulullah adalah suami yang lembut, romantis dan pandai menyenangkan istri.  Bukan suami yang otoriter, kaku, atau dingin. Karenanya mengherankan jika ada suami yang tidak pernah menyenangkan dan memanjakan istri-istri mereka, dengan alasan waktu habis untuk bekerja atau beribadah. 

Dalam suatu riwayat beberapa sahabat mengunjungi Aisyah ra. Salah satunya bertanya kepada Aisyah, "Ceritakanlah kepada kami apa yang engkau lihat paling menakjubkan tentang akhlaq Rasulullah." Aisyah menjawab,"Semua perilaku beliau menakjubkan." Pada suatu malam beliau menghampiriku sehingga tersentuhlah kulitku oleh kulitnya. Kemudian berkatalah Rasulullah kepadaku, "Izinkan aku beribadah pada Rabb-ku, "Aku menjawab, "Demi Allah aku suka engkau tetap berada disampingku, tapi aku juga suka melihatmu beribadah kepada Tuhanmu."

Pandangan bahwa kehidupan rumah tangga melulu diisi dengan ibadah, tanpa kegiatan yang menyenangkan bersama istri dan anak-anak jelaslah hal yang berlebihan dan bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw. Beliau adalah figur suami yang pandai menyenangkan istri-istri beliau dengan permainan dan hiburan. 

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah pernah mengajak Aisyah melihat tarian perang orang-orang Habsyah di mesjid, sementara ia dibatasi dengan selendangnya. Aisyah menikmatinya sampai ia merasa bosan. (Romantis banget kan ya?). Beliau juga tidak merasa malu mengajak Aisyah melakukan perlombaan lari. 

Dari sini jelaslah bahwa Rasul bukan figur suami yg serius, kaku dan tidak mengenal hiburan. Tapi Rasulullah memberikan gambaran bahwa manusia dan keluarga sewaktu-waktu memang perlu mendapat hiburan. 

Rasulullah selain sebagai figur suami teladan, beliau pun adalah sosok pemimpin umat dan pejuang sejati. Memiliki kharismatik, berani, dan pantang menyerah. 

Sosok pemimpin dan pejuangnya tidak membuatnya menjadikan rumah tangganya sebagai rumah tangga yang kaku dan dingin dan tak mengenal kasih sayang. Yang terjadi sebaliknya, dihiasi keceriaan dan kesenangan serta kebahagiaan pada seluruh anggota keluarganya. Rasul mampu menempatkan kapan dirinya sebagi pria yang tegas, kapan harus bersikap lembut dan kapan menghibur. 

Jadi, Siapa yang tak merindu dan mengidamkan indahnya kehidupan rumah tangga seperti Rasulullah saw? 

Mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah dah rahmah seperti keluarga Rasulullah saw memang bukanlah perkara yang mudah bagi kita yg saat ini hidup di zaman sekuler-kapitalistik. Yang sangat rentan terjadi pelalaian tugas dan fungsi keluarga. Berganti peran dan tugas antar anggota keluarga sudah jamak dilakukan. Ibu berperan sebagai ayah yang mencari nafkah, sedang ayah berdiam di rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Anak-anak yang seharusnya dilindungi dan diberi pendidikan malah dipekerjakan untuk mencari nafkah. Rasa kasih sayang yang semestinya hadir diantara keluarga pun kering dan mati. Namun, bukanlah perkara utopis bagi kita untuk mewujudkan indahnya kehidupan rumah tangga seperti keluarga Rasulullah saw. 

Sudah saatnya kita terpacu untuk segera keluar dari kubangan lumpur kapitalisme yang sudah merusak tatanan kehidupan rumah tangga muslim saat ini. Membina diri dengan Islam yg akan menghantarkan kehidupan rumah tangga yang senantiasa memiliki cara pandang Islam ideologis sebagai acuan dalam menilai seluruh permasalahan serta penyelesaiannya.  Yang kemudian bersama-sama dengan keluarga-keluarga Muslim lainnya kita bangun sebuah peradaban luhur dan mulia yaitu peradaban Islam dengan tegaknya Daulah Khilafah Islam 'ala minhajin Nubuwwah. Sebagaimana yang diteladankan Rasululllah saw. 

Dengan demikian, gambaran indahnya rumah tangga seperti Rasululllah saw akan terwujud nyata dalam kehidupan rumah tangga setiap Muslim saat ini.
Wallahu'alam bish showwab.
 
Top