Penulis Dian Safitri, S.Pd.I

Baru-baru ini, pernyataan paslon no.urut 01 kembali menjadi perbincangan, bagaimana tidak, pernyataan itu tidak selayaknya diucapakan. Dalam pertemuan yang dihadiri para pengusaha itu paslon 1 mengatakan" bapak, ibu mau memilih yang didukung oleh organisasi-organisasi yang itu? Mau? Saya tidak sebut, tapi sudah tahu sendiri kan ? (Suaranasional.com)

Sontak Pengamat politik Muslim Arbi menilai pernyataan paslon 01 itu terkesan adu domba dan malah membuat rakyat tidak simpati. Pernyataan itu juga terkesan kepanikan rezim dan ambisius mempertahankan kekuasaan dengan segala cara, beliau menambahkan paslon 01 membuat kegaduhan dengan menyebut ada organisasi berbahaya yang mendukung paslon no.urut 2, paparnya kepada suaranasional.com
(23/03/2019).

Sebelumnya tudingan yang sama pernah dilontarkan oleh oleh ketua partai pendukung petahana ketika berpidato di hadapan masyarakat NTT, dalam video yang beredar tersebut dia menuding ada kelompok-kelompok ekstremis yang mau mengubah NKRI menjadi khilafah dan mau membangun negara dalam NKRI, ujarnya.(detik.com, 04/08/2017).

Di video tersebut dia menjelaskan dengan versi dia sendiri dihadapan masyarakat NTT bahwa khilafah akan memaksa mereka yang berbeda keyakinan untuk melaksanakan shalat. Khilafah tidak mengakui adanya perbedaan.

Dengan provokasi dia melarang masyarakat NTT mencoblos partai-partai yang mendukung khilafah, seperti Gerindra, Demokrat, PAN, dan PKS seperti tudingannya.

Sungguh isu khilafah masih menjadi senjata untuk menakut-nakuti penantang petahana dalam memenangkan suara rakyat. Hal ini diperkuat dengan beredarnya video viral tokoh Agama yang menyatakan jika paslon 02 terpilih, maka NU hanya akan menjadi fosil. Hari santri akan dihapus, Tahlilan dan dzikir akan dilarang. Kalimat itu terlontar karena isu yang dihembuskan para pendukung capres no.urut 01 bahwa capres no.urut 02 didukung oleh kelompok Islam radikal dan ekstremis. Tidak berhenti disitu umat pun ditakut-takuti jika paslon no.urut 02 menang, maka Indonesia akan menjadi seperti suriah. Mau mendirikan khilafah, NKRI akan musnah. Sungguh menggelikan. 

Semestinya seorang kepala negara bisa menyatukan ummat yang terpecah-belah bukannya melontarkan kalimat yang memperuncing perpecahan. Entah siapa dan organisasi apa yang dimaksud, namun apa yang diucapkannya tak sepatutnya keluar dari lisan seorang pemimpin.

Belum lama ini juga beredar video siswa SMA dan guru Agama Islam di semarang  menyatakan menolak paham Khilafah. Ribuan orang yang tergabung dalam asosiasi guru pendidikan Agama Islam Indonesia kota semarang dan siswa-siswi ROHIS se-kota semarang itu juga menyatakan diri mendukung sang petahana.

Sebenarnya tidak heran terkait deklarasi penolakan paham khilafah yang dilakukan oleh AGPAII tersebut, karena pendukung deklarasi tersebut adalah salah seorang pejabat wali kota  yang merupakan politisi salah satu partai pendukung petahana yang menentang khilafah.

Menjelang pilpres isu khilafah selalu jadi alat kambinghitam untuk menghantam kubu penantang. Rakyat ditakut-takuti dengan khilafah. khilafah selalu dipersalahkan atas ketidakmampuan penguasa mengurus negara, kelompok yang memperjuangkan ide khilafah pun dibungkam dengan cara yang tidak berkeadilan, mereka dicitrakan sebagai musuh bangsa yang tak layak menghuni Indonesia.

Perlu dipahami ide khilafah bukan gagasan baru yang dibuat-buat oleh pengusungnya, Khilafah adalah Ajaran Islam yang telah banyak disebutkan dalam kitab-kitab ulama mu'tabar, sejarahnya nyata, dalilnya pun ada. Jadi statusnya sebagai bagian dari ajaran Islam tak akan berubah, meski dunia menolaknya. 

Muhasabah adalah
cara terbaik bagi penguasa untuk merenungi kembali kepemimpinannya, karena kalau rakyat sudah tidak percaya maka ada yang salah dari kepemimpinannya. Semakin antipati dengan Islam maka semakin kuat pula keinginan ummat untuk melakukan perubahan.

Apa sebenarnya khilafah  
yang selama ini mereka takuti?

Para ahli fikih  mendefinisikan Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi umat Islam secara keseluruhan di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syara' dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. 

Dalil-dalil tentang wajibnya menegakkan khilafah bagi kaum muslimin tercantum dalam QS An-nisa ayat 59, Al-Maidah ayat 48-49, QS Al-hadid ayat 25. Dan juga sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam" barangsiapa yang mati dan di pundaknya tidak ada bai'at, maka matinya adalah mati jahiliyah. (HR. Muslim).

Jadi menegakkan khilafah adalah kewajiban syar'i yang didasarkan pada dalil-dalil syariah. Bahkan kewajiban menegakkan khilafah  yang menerapkan syariah Islam secara kaffah adalah perkara yang mujma' 'alayhi (disepakati oleh para ulama mu'tabar). Karena itu jika ada yang menyelisihi kewajiban ini maka tidak perlu dianggap karena jelas menyimpang.
Imam 'Alauddin al-Kasani al-Hanafi berkata "sesungguhnya mengangkat imam yang agung khalifah adalah fardhu, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul haq, dan tidak perlu dianggap adanya perbedaan dari sebagian kalangan qodariyyah.

Maka bersegeralah menunaikan kewajiban, karena sejatinya seorang mukmin hanya memiliki satu sikap, yaitu sami'na wa atho'na (kami dengan dan kami taat). 
Sebab, perintah Allah SWT adalah untuk dijalankan, bukan untuk diperdebatkan, apalagi dibantah dan ditentang. Karakter mukmin yang sebenarnya digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya al-qur'an surat An-Nur ayat 51. "Sungguh jawaban kaum mukmin itu, jika mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum mengadili diantara mereka, ialah ucapan, kami mendengar dan kami patuh." Begitulah seharusnya mukmin ketika ketika mendengar seruan untuk menegakkan khilafah mereka pun menyambutnya dengan ketaatan.

Jadi tidak benar jika mereka mengatakan khilafah itu utopis dan tidak ada landasan hukumnya. Justru khilafah adalah jalan kebangkitan hakiki untuk keluar dari segala cengkraman yang menimpa ummat saat ini.
Allahu A'lam
 
Top