Penulis : Sumiati  
(Praktisi Pendidikan dan Member AMK )

Ketum Partai Demokrat (PD)Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)menyoroti urutan acara kampanye akbarPrabowo-Sandiaga hari ini. Masukan diberikan sebelum kampanye digelar. PD bersyukur masukan SBY itu diikuti.
"Pak SBY mengingatkan. Hari ini kita perhatikan apa yang wujud dalam kampanye hari ini sudah mengikuti apa yang kira-kira diingatkan oleh Pak SBY," kata Ketua Dewan Kehormatan PD Amir Syamsuddin kepada wartawan.

Amir mengatakan selama ini bergulir kesan politik identitas sudah sedemikian masifnya. SBY, kata Amir, khawatir kesan politik identitas itu mencapai puncaknya di kampanya akbar Prabowo-Sandi hari ini.

"Alhamdulillah, peringatan yang diberikan sebelum kampanye, saran, nasihat dan pandangan dari SBY, Alhamdulillah cukup diperhatikan," kata Amir.

Kampanye Prabowo di GBK. 
Amir tak tahu soal pihak yang menyampaikan pesan SBY ke Prabowo-Sandi. Namun dia memastikan SBY punya jalur sendiri untuk menyampaikan masukannya.

"Pak SBY mengingatkan tidak ada salahnya, kita tetap harus mengingat keberagaman kita itu adalah satu hal yang sangat perlu selalu kita jaga. Tidak ada pertentangan, Pak SBY mengingatkan sebelumnya, dan alhamdulillah kampanye akbar Prabowo-Sandi hari ini berjalan baik," ujar mantan Menkum HAM ini.

SBY mengirimkan masukannya lewat surat ke internal PD, yang ditujukan untuk Ketua Wanhor PD Amir Syamsudin, Waketum PD Syarief Hasan dan Sekjen PD Hinca Panjaitan. Dalam suratnya, SBY meminta ketiga elite PD itu untuk memberi masukan agar kampanye akbar Prabowo-Sandi tetap inklusif.

"Penyelenggaraan kampanye nasional (dimana Partai Demokrat menjadi bagian didalamnya) tetap dan senantiasa mencerminkan 'inclusiveness', dengan sasanti 'Indonesia Untuk Semua' juga mencerminkan kebhinnekaan atau kemajemukan. Juga mencerminkan persatuan. 'Unity in diversity'. Cegah demonstrasi apalagi 'show of force' identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuasa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrem".

Ketakutan penguasa semakin menguat, dengan adanya ungkapan dari SBY yang dituangkan dalam sebuah surat. Takut akan bangkitnya kesadaran politik kaum muslim, untuk itu mereka menguatkan barisan pencegahannya dengan berbagai upaya. Upaya masif ini terus menerus digulirkan demi terhentinya umat Islam menggali Islam secara mendalam dan aktifitas politik yang haqiqi. Ketakutan yang melahirkan upaya ketat dari musuh-musuh Islam merupakan salah satu tanda, sungguh Islam agama yang benar, agama dunia yang diridhoi oleh Sang Maha Pencipta yakni Allaah SWT.
إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ ۗ وَمَا ٱخْتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْعِلْمُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلْحِسَابِ ﴿١٩﴾

"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya."

(Q.S.3:19)

Bagaimana Islam memandang tentang politik?
Sungguh, sejak pertama Rasulullah saw diutus menjadi Rasul penyampai risalah, aktifitas politik telah beliau lakukan. Bagaimana tidak, jika Rasulullah saw tidak menginginkan Islam kafah diterapkan, tentu bagi Rasulullah saw untuk taat kepada Allaah SWT, ibadah yang sempurnapun sangat mudah, namun tidak demikian yang Allaah SWT perintahkan, yakni Islam wajib diterapkan dari A sampai Z, tidak boleh ada pengamalan diimani sebagian diingkari sebagian. Karena sikap demikian nyatalah bukti ingkar sebenarnya. Maka dari itu Rasulullah saw terus berdawah dengan berbagai rintangan, agar Islam diterapkan dalam bingkai Negara bukan individu, karena rajam, qishash dan lain-lain tidak bisa dilaksanakan sendiri tanpa sebuah Negara. 
Wallaahu a'lam bishawab.

0 komentar:

 
Top