Penulis : Hasna Fauziyyah Khairunnisa

Perkara yang paling mempesona dari semua yang pernah di lakukan oleh Rasulullah adalah akhlak kepada keluarganya. Salah satunya Bunda Kaum Muslim, yaitu Aisyah ra. Ia mempunyai banyak kenangan indah bersama Rasulullah SAW. Dalam satu perjalanan, Rasulullah SAW pernah mengajaknya lomba lari. Saat itu, Aisyah belum gemuk sehingga ia berhasil mendahului beliau. Saat lain ketika Aisyah sudah gemuk, Rasulullah SAW kembali mengajaknya berlomba. Mereka berkejar kejaran sampai beliau berhasil mendahuluinya. Lalu beliau bersabda ,” Ini untuk membalas kekalahanku waktu itu.” ( HR Ibn Hibban ). Rasulullah memang bergaul secara indah, senang bersenda gurau dengan istri-istrinya, senantiasa bersikap lemah lembut, hingga bersabar dengan kekurangan yang ada pada istri-istrinya. Beliau tahu apa yang disukai dan apa yang tidak di sukai istri-istrinya. 

Dengan karakter kemanusiaannya, Rasulullah SAW memberikan contoh-contoh yang nyata untuk menyelesaikan berbagai permasalahan rumah tangga beliau dengan baik. Apa yang di berikan Rasulullah SAW kemudian  diikuti oleh para sahabat, tabi’in dan generasi-generasi sesudahnya. Berbagai cerita indah tentang kehidupan rumah tangga istri-istri Rasulullah SAW diriwayatkan turun temurun dan tercatat dalam kegemilangan secara Islam. Contohnya Ali bin Abi Thalib ra. Tidak segan-segan untuk membantu pekerjaan istrinya, Fatimah binti Muhammad SAW di rumah. Diriwayatkan bahwa  suatu hari Rasulullah SAW datang menjenguk Fathimah ketika ia sedang bekerja bersama Ali. Beliau terus bertanya, “Siapakah dari kalian yang akan ku gantikan ?” Ali menjawab, “Fathimah!”. Akhirnya Fathimah berhenti dan digantikan oleh ayahnya.

Bertolak belakang dengan saat ini, ketika sistem sekular di terapkan di tengah tengah ummat, peran keluarga menjadi kacau. Sekularisme telah menggantikan posisi tujuan hidup manusia. Yang awalnya hidup untuk beribadah kepada pencipta direvisi menjadi hidup bebas tanpa batas. Akhirnya banyak sekali persoalan yang membelit keluarga saat ini, seperti tingginya angka perceraian, kenakalan remaja, kejahatan seksual terhadap anak, hinga berbondong-bondongnya perempuan memasuki dunia kerja. Akhirnya peran ibu sebagai pendidik pertama anak-anaknya semakin langka. Hal ini semata-mata bukan karena ibu tidak memahami adanya kewajiban mendidik anak-anaknya, melainkan karena keluarga tersebut memang terbelit kemiskinan. Dan jika dikaji secara mendalam, masalah keluarga yang ada pada saat ini adalah problem sistemik dan bukan problem semata individual anggota keluarga. 

Dalam Islam, masing masing hak dan kewajiban suami - istri sudah dijelaskan secara rinci. Keseimbangan antara pemenuhan hak dan kewajiban suami-istri tidak boleh berjalan dengan timpang. Karena sering sekali diseru untuk istri taat kepada suami. Namun, tidak banyak diserukan kewajiban para suami untuk memperlakukan istri secara makruf. Seandainya para suami mau mempergauli istri mereka dengan makruf, maka ketaatan itu sangat ringan di lakukan oleh para istri. Dengan dilaksanakannya peran suami-istri dalam naungan Khilafah Islamiyah dan dilandasi untuk mencapai keridhoan Allah, maka akan tercapailah kebahagiaan hakiki dalam keluarga. Karena hanya dengan Khilafah Islamiyah peran keluarga bisa kembali ke asalnya, “ Baitii Jannati “ (keluargaku syurgaku ).
 
Top