Penulis : Nurdila Farha Kamila

Berbicara indahnya sebuah keluarga tak bisa dilepaskan dari sosok mulia Rasulullah saw. dan para sahabat. Beberapa orang sahabat pernah meminta Aisyah ra. untuk menceritakan perkara yang paling mempesona dari semua yang pernah ia saksikan pada diri Rasulullah saw. Dengan suara terisak menahan tangis, ia menjawab dengan suara lirih, "kana kullu amrihi 'ajaba (semua yang ada pada beliau menakjubkan bagiku)."

Rasulullah saw. begitu pengertian dan memahami sifat-sifat istrinya. Beliau bergaul secara indah dan bersenda gurau dengan istri-istri beliau, senantiasa bersikap lemah lembut kepada mereka, dan sering membuat mereka tertawa. Beliau tahu apa yang disukai istrinya dan apa yang tidak disukai. Juga bersabar dengan kekurangan istri-istrinya dan memberikan teguran dengan bijak. Rasulullah saw. juga meminta, menghargai, dan menerima pendapat-pendapat istrinya. Sesibuk-sibuknya beliau dengan urusan agama dan negara, beliau masih menyempatkan diri setiap hari mendatangi istri-istrinya, bercanda  dengan mereka dan menyelesaikan persoalan-persoalan rumah tangganya dengan bijak.

Tidak hanya kepada para istrinya, Rasulullah saw. juga menjadi teladan dalam membimbing dan mendidik anak-anak. Beliau senantiasa berlaku lemah lembut dan tidak pernah mencela anak-anak. Sungguh indah, gambaran keluarga yang dicontohkan Rasulullah saw. memang sangat mengesankan. Rasulullah saw. memberikan contoh-contoh nyata untuk menyelesaikan berbagai permasalahan rumah tangga beliau dengan baik yang kemudian diikuti oleh para sahabat, tabi'in, dan generasi sesudahnya.

Diantaranya adalah Ibnu Abbas. Beliau sangat menjaga hak-hak istrinya sebanding dengan kewajiban istri menjaga hak-haknya. Beliau menuturkan, "Sungguh, aku suka berhias untuk istriku, sebagaimana ia berhias untukku. Aku pun suka meminta agar ia memenuhi hakku, dan ia juga dipenuhi haknya yang wajib aku tunaikan untuk dia. Sebab Allah SWT telah berfirman (yang artinya): para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf (QS al-Baqarah [2]: 228)

Membaca kisah perjalanan Rasul Saw. dan para Sahabat terutama  keharmonisannya dalam keluarga, seolah membawa kita terhanyut menjadi bagian keluarga itu dan ingin mewujudkan pula dalam keluarga kaum Muslim era milenial saat ini. Namun, ada yg berbeda meski bukan mustahil, bahwa zaman dimana aturan dan suasananya tak Islami akan mudah mewujudkan cita-cita dan harapan itu. Di sadari atau tidak, kesempitan hidup senantiasa membayangi keluarga-keluarga Muslim yg berupaya menciptakan keluarganya nyaman dan harmonis. Banyak aspek dan kebijakan kufur menggempur tatanan keluarga yang tak sedikit mngguncang serta merobohkan mahligai rumah tangga. Tak sedikit diliputi konflik bahkan banyak yang berakhir dengan perceraian. Mirisnya, kebanyakn pemicunya adalah ekonomi. Indahnya rumah tangga Rasulullah saw. dan para sahabat dapat diwujudkan dalam setiap keluarga muslim apabila mengikuti semua perilaku Rasul di dalam keluarganya. Pun terlaksananya hak dan kewajiban dengan landasan yang sama untuk menggapai keridhoan Allah, maka akan tercapailah kebahagiaan dalam keluarga. Dan semua itu akan terwujud ketika Khilafah Islamiyah ditegakkan.
 
Top