Penulis : Mulyaningsih, S.Pt
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
(Anggota Akademi Menulis Kreatif)

Perdana Menteri Israel Benjamin berjanji akan memperluas wilayah, jika kembali terpilih menjadi Perdana Menteri. Apabila kembali terpilih, dia berjanji akan mengakuisisi pemukiman Yahudi di Tepi Barat, bagian dari wilayah Palestina di barat sungai Yordan.

Meski pemukiman tersebut dianggap illegal oleh hukum internasional, namun Israel terus saja membantah. Disana hidup sekitar 400 ribu warga Yahudi dan 200 ribu lainnya di Yerussalem Timur. Disisi lain, Palestina juga berniat mendirikan negara di Tepi Barat yang memang ditinggali sekitar 2,5 juta warga Palestina.

Pemukiman di Tepi Barat memang menjadi persoalan yang paling diperdebatkan Israel dan Palestina. Palestina beranggapan kehadiran pemukiman tersebut membuat impian Palestina untuk merdeka semakin sulit terwujud. Sedangkan Israel mengatakan alasan yang digunakan Palestina hanya alibi untuk menghindari negoisasi langsung. Israel juga beranggapan, pemukiman bukanlah hambatan yang sebenarnya terjadi.

Juru bicara pemimpin Palestina Mahmoud Abbas mengatakan kepada Reuters bahwa segala upaya yang dilakukan Israel untuk memperluas wilayah, tidak akan mengubah fakta bahwa pemukiman Yahudi itu illegal. Disisi lain, pemerintahan Trump telah menyerukan dukungannya selama pertemuan Koalisi Yahudi Republik. Selama beberapa tahun belakangan, Amerika memang menunjukkan dukungannya secara terbuka pada Israel, termasuk mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel. Menanggapi hal tersebut, Palestina memutuskan hubungan dengan Amerika yang dianggap tak lagi pantas disebut perantara damai (m.republika.co.id, 7/4/2019).

Kembali lagi menyeruak ke permukaan, bahkan secara terang-terangan mengemukakan tujuan serta niatan yang akan mengambil wilayah dari Palestina. Sedari dulu Israel selalu saja bersikap acuh dan tak memperdulikan keadaan yang ada. Ditambah lagi dengan diamnya negeri-negeri yang ada disekitar, membuat parah keadaan. Seolah tindakan yang dilakukan oleh Israel adalah baik-baik saja dan tak menyakiti orang atau negara lain. Begitu seterusnya, tanpa ada basa-basi pembelaan dari negara-negara yang ada di sekitarnya. Palestina selalu saja menjadi bulan-bulanan Israel. 

Perserikatan bangsa-bangsa saja diam membisu tanpa ada reaksi nyata yang terlaksana. Begitu adanya realitas yang ada sekarang ini, bahkan negeri dengan mayoritas muslim ini selalu saja terdzolimi, lagi dan lagi tanpa ada henti. Tak hanya itu, Israel dengan segenap hati dan berbagai macam cara melakukan apa saja demi mewujudkan keinginanya. Tak peduli lagi apakah hal tersebut akan menyengsarakan atau bahkan membunuh manusia tak menjadi maslaah. Asalkan mereka mendapatkan apa yang di impikannya,yaitu mengambil alias mencaplok wilayah-wilayah Palestina. 

Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit akhirnya hampir semua wilayah Palestina diambil alih oleh Israel. Kemudian yang terjadi sekarang, wilayah Pemukiman Tepi Barat kembali akan diambil oleh Israel. Padahal sejatinya disana juga telah bermukim orang-orang Muslim dengan jumlah cukup banyak.

Secara lantang Perdana Mentri Israel mengucapkan akan mengambil alih wilayah tersebut jika ia kembali terpilih. Menjadi suatu yang di luar akal manusia. Dengan teganya mengambil sesuatu tanpa memperhatikan yang lainnya. Wujud nyata yang sedari dulu digaungkan oleh para pemimpin mereka.

Melihat fakta diatas sebenarnya kita akan menuju pada satu pandangan bahwa kejadian itu terus dan akan selalu terulang. Mengapa demikian? Karena sudah bisa kita pastikan Israel pada hakikatnya telah jelas-jelas menyerobot dan merampok serta menduduki tanah Palestina. Cara yang mereka lakukan begitu kejamnya dengan dengan melakukan pengeboman serta pengusiran penduduk Palestina. Ini merupakan bentuk agresi, penjajahan dan pendudukan atas penduduk Palestina.

Jika kita rincikan konteks masalah Palestina bahwa berbagai forum yang ada sering hanya berkutat pada dua tujuan saja. Pertama, untuk meredam kemarahan publik Muslim sehingga tidak terjadi gerakan yang lebih besar dan membahayakan penguasa serta hegemoni negara kafir penjajah. Kedua, menegaskan konsensi yang sudha diberikan atau menjadi persiapan untuk pemberian konsensi selanjutnya. Sejatinya kedua hal tadi tidaklah mungkin bisa mengatasi konflik yang selalu terjadi antara Palestina dna Israel. Padahal jelas, solusi yang sering diutarakan itu selalu berpihak pada Israel dan Palestina selalu harus menerima putusan tersebut. Wujud nyatanya adalah keberadaan Israel di tanah Palestina, itulah sebenarnya masalah yang mesti dicari jalan keluarnya. Solusi tadi hanyalah akan membuat masalah baru, artinya solusi tersebut adalah solusi palsu (tidak mengatasi masalah).

Solusi yang hakiki untuk permasalahan Palestina dan Israel harusnya sesuai dengan syariah. Masalah Palestina ini tidak serta merta permasalahan internal negara saja, namun ini adalah masalah Islam dan kaum Muslim. Mengapa demikian? Hal ini dikarekan posisi tanah Palestina adalah sebagai tanah kharajiyah milik kaum Muslim di seluruh dunia. Dan statusnya adalah akan tetap sampai hari kiamat tiba. Tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkannya kepada pihak lain. Apalagi terhadap Israel, kita harus bisa mengambil lagi tanah Palestina dan usaha yang harus dilakukan adalah memeranginya. 

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegalkan hati kaum Mukmin (TQS at-Taubah: 14).
Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian (TQS al-Baqarah: 191)

Berdasarkan firman Allah di atas, Israel seharusnya diperangi dan diusir dari tanah Palestina. Jihad fi sabilillah wajib dilakukan padanya. Namun yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah apakah hal tersebut dapat dilakukan oleh kaum Muslim di era sekarang? Sebenarnya hal itu bisa saja dilakukan, namun terkadang kita terbentur dengan adanya sekat wilayah (negara) serta kebijakan rezim yang berkuasa. Apalagi kondisinya sekarang adalah rezim yang ada tidak menjadikan aqidah serta syariah Islam sabagai asas dan standar dalam bernegara, termasuk di dalamnya adalah politik luar negeri.

Oleh sebab itulah solusi hakiki masalah Palestina adalah dengan mewujudkan kekuasaan Islam yang belandaskan pada aqidah dan syariah Islam. Khilafah Islam yang mengikuti manhaj kenabian, itulah solusi hakiki yang akan melindungi umat dan akan melancarkan jihad terhadap siapun yang memusuhi Islam dan kaum Muslim. Tentulah dengan kekuatan jihad tersebut yang akan mampu mengusir penjajah Israel dari tanah Palestina. Mari berjuang bersama agar semua itu dapat terwujud. Wallahu a’lam.[ ]
 
Top