Oleh : Agus Susanti 
(Aktivis Pemerhati Remaja)

Sungguh aneh tapi nyata takkan terlupa,kisah-kasih di sekolah dengan si dia. Tiada masa paling indah masa-masa di sekolah tiada kisah paling indah, kisah-kasih di sekolah. Sebait lagu Chrisye ini menggambarkan bagaimana keindahan dunia sekolah bagi para remaja. Susah senang senantiasa dilalui bersama, hingga rasa persahabatan yang tak terpisahkan.

Namun ada hal yang sangat disayangkan dari pertemanan ini, yang mana banyak remaja yang tak mampu memfilter mana teman yang baik dan mana teman yang hanya menjerumuskan. Seperti yang terjadi pada akhir bulan Maret ini, para siswi/a telah menyelesaikan ujian nasional (UN) dan merayakannya dengan melakukan coret-coret di jalanan.

Tanjungbalai-metrokampung.com.Hari terakhir pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMK di Tanjungbalai, puluhan siswa siswi merayakannya dengan mencoret-coret baju seragam sekolahnya, Kamis (28/3).
Bagaikan seorang tahanan yang telah bebas, para siswa/I tidak memperdulikan himbauan dari sekolah untuk tidak melakukan aktivitas coret-coret yang tidak berfaedah dan merugikan.

Selama ini mereka menantikan masa ini, sebab ini adalan gerbang terakhir menuju kehidupan yang bebas. Tidak ada terbesit dihati mereka untuk menjaga agar seragam yang mereka gunakan bisa berguna bagi orang lain dan  di luar sana masih banyak yang membutuhkan. Mereka bahkan lupa akan jerih payah keringat orang tua yang mati-matian, siang dan malam tak kenal lelah demi memenuhi segala keperluan sekolah. 

Ini adalah hasil dari pendidikan sekuler yang gagal. Sebab dalam penerapan kurikulum yang ditanamkan hanyalah pelajaran bidang studi yang menjadi bekal untuk mendapatkan materi. Sangat sedikit guru yang memperhatikan akhlaq para siswanya. Semua murid hanya dipacu untuk mengerjakan tugas dan berlomba untuk mendapatkan nilai yang tinggi sehingga para murid hanya berfokus bagaimana bisa mencapai semua itu. Alhasil kecurangan pun menjadi pilihan. Tak ingin diejek karena mandapatkan nilai rendah, mereka sampai bekerjasama untuk saling memberikan contekan saat ujian. Apabila ada seseorang yang tidak mau memberikan contekan maka ia akan menjadi korban bully dari teman yang lain.

Oleh sebab itu para pelajar merasa bahwa UN adalah gerbang terakhir yang akan membebaskan mereka dari segala kepenatan saat di sekolah. Meskipun hasil UN belum bisa diketahui namun itu tak membuat mereka khawatir. Dalam benak mereka hanya ada rasa bahagia bisa  menyelasaikan ujian akhir yang artinya mereka sudah tamat. Hanya sedikit sekali pelajar yang akan berfikir positif akan tantangan baru yang sudah di depan mata. Dunia perkuliahan ataupun berkarir adalah pilihan yang harus difikirkan dengan sangat matang.

Hal ini berbeda sekali dengan pendidikan dalam sistem islam. Seluruh kurikulum yang diterapkan adalah berbasis islam dan berfokus untuk membentuk pribadi yang jujur dan berakidah serta akhlaq yang mulia seperti tauladn kita Rasullullah Saw. Dalam mendidik murid para guru tidak berfokus meminta siswanya mendapat nilai tertinggi. Sebaliknya yang diutamakan adalah kejujuran mereka dalam menyelesaikan soal-soal, dan memberikan motivasi agar semua murid belajar sebelum memasuki ujian sekolah. Sehingga tak ada kecurangan apalagi budaya mencontek.

Dan semua itu hanya bisa diterapkan bila sistem yang digunakan adalah sistem islam. Karena hanya islam yang bisa menjaga kemurnian aqidah dalam dunia pendidikan. Sehinngga hasil dari mengeyam bangku sekolahan tidak sekedar coret-coret, melainkan kecerdasan yang bisa menghasilkan peradaban mulia untuk kemajuan negeri.

Wallahu a’lam bishawab

0 komentar:

 
Top