Penulis : Sumiati 
(Praktisi Pendidikan dan Member AMK )

Sering kita mendengar kalimat bahwa hidup adalah pilihan, seseorang hidup sesuai dengan jalan yang ia pilih, yang ia sukai, dan dianggap benar olehnya. Pilihan hidup yang dipilih manusia tergantung kepada pemahaman seseorang itu, pemahamannya baik maka pilihannya akan baik, pemahamannya buruk maka pilihannya akan buruk. Contoh ketika Rasulullah saw berdawah, shahabat Abu bakar shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Afan, Ali bin Abi Thalib dan lain-lain adalah keluarga Rasulullah saw yang memilih menjalani kehidupan sebagaimana Rasulullah saw, karena pemahaman semuanya telah berubah seiring dawah Rasulullah saw ketika menyampaikan al Quran, maka pilihan hidup para shahabat, mengikuti jejak Rasulullah saw. 

Berbeda dengan Abu Thalib, walaupun beliau terus menerus di dawahi Rasulullah saw dengan berbagai cara, namun pemahaman beliau tidak berubah karena menurutnya mengikuti jejak nenek moyangnya terdahulu lebih mulia, dan mengikuti para pembesar Quraisy itu lebih mulia, sehingga pilihan hidupnya tetap dalam kekafiran. Na'udzubillaahi min dzaalik. 

Namun seringkali ditengah masyarakat terjadi banyak orang yang menyesal dengan apa yang telah terjadi pada dirinya, atau apa yang menimpa dirinya, padahal yang menimpa dirinya adalah sesuai pilihannya bukan paksaan orang lain. Contohnya anak remaja: orang tua, guru sekolah, guru ngajinya telah mengingatkan bahwa aturan hidup yang sesuai dengan fitrah manusia yaitu hanyalah Islam, tetapi karena pengaruh pergaulan, tontonan dan lain sebagainya, ia memilih hidup bebas, bergaul bebas, tidak menutup aurat, berpacaran dan lain-lain yang sifatnya mengarah pada kemaksiatan. 

Suatu ketika jika cela menghampirinya, tiba-tiba ia hamil di usia sekolah, dia sedih, marah, malu dan lainnya. Terkadang hal ini menyebabkan depresi, bunuh diri, padahal itu pihan hidup yang dipilihnya tanpa paksaan. Seharusnya jika sudah memilih, dia harus terima segala konsekuensinya. Inilah sesungguhnya masyarakat kita belum mampu berfikir yang benar dalam berbuat, mengabaikan nasihat, karena tidak mengerti akibatnya buruknya.

Bagaimana dengan Islam memandang hal seperti ini? Islam telah mengajarkan kepada kita semua, yang dicontohkan oleh tauladan kita yaitu Rasulullah saw. Allaah SWT berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا ﴿٢١﴾

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."

(Q.S.33:21)

Tidak ada alasan untuk tidak memilih hidup mengikuti Rasulullah saw, Allaah SWT telah menyampaikan dalam al Quran hidup yang harus dijalani dan apa hasil dari pilihan hidup kita, Allaah SWT berfirman: 

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ﴿١٧٢﴾

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini."
(Q.S.7:172)
Wallaahu a'lam bishawab.
 
Top