Penulis : Fitri Irawati
(Member Komunitas Remaja Islam, Serdang Bedagai)

    Miris. Indonesia kembali diguncangkan dengan sebuah kabar mencengangkan yang sangat mengiris hati dan mengusik pikiran. Seorang anak SMP dikabarkan telah dikeroyok oleh 12 siswi SMA. Kabar yang ramai di lini maya ini cukup menggetarkan tiap-tiap pembaca. Banyak orang sibuk berkomentar, jarinya tak sabar menyuarakan. Seolah pendapatnya paling layak didengar. Namun, yang hilang dari perhatian adalah, seberapa benar informasi tersebut? Atau mungkin seberapa mengerikan baik korban maupun pelaku yang dikabarkan?

Kita semua tahu, media selalu punya celah untuk membelokkan. Segalanya mampu dengan begitu lancar tersalurkan. Bahkan ketika realita tak sesuai dengan ekspektasi di media. Dan yang paling menyedihkan saat ini adalah, dunia menganggap itu wajar. Seolah masyarakat tengah membiasakan kebodohan.

    Ya, Netizen. Kebiasaan untuk bebas memberi tanggapan tanpa menilik atau mencari tahu terlebih dahulu seperti apa duduk perkara suatu permasalahan, merupakan satu hal yang seolah-olah sudah menjadi hukum sosial. Jari-jari penghujat, umpatan-umpatan, dan sumpah serapah seolah harus menjadi makanan untuk mereka yang dianggap paling bersalah. Menandakan respon sosial masyarakat yang memang sudah teracuni. Beberapa memandang bahwa mereka yang menang adalah yang berhasil mempermalukan pihak-pihak lawan. Merasa terdapat semacam kehebatan ketika kata-kata kasarnya berhasil membuat pendengar diam. Yang menang, adalah yang berhasil mempermalukan. Tak ada lagi jiwa-jiwa yang saling menguatkan. Kalaupun ada, rata-rata hanyalah bentuk ‘respect’ untuk mereka yang merasa ‘sekubu'. Semacam bentuk kumpulan sekutu dalam membentuk benteng pertahanannya. Alhasil, masing-masing dari mereka merasa paling benar, lalu dengan berbagai cara agar Sang Lawan tak berhasil mempermalukan.

    Begitulah, Social Judgement. Bahkan salah seorang pelaku mengatakan bahwa hukuman sosial sudah cukup membuat mereka jatuh. Menurut kabar berita yang dilansir dari Indonesiainside.id (11/04/19), ternyata Social Judgement sangat berpengaruh untuk kondisi psikis para pelaku. Hal ini dapat kita perhatikan melalui kiriman berbagai media sosial beberapa hari terakhir.

    Netizen berbondong-bondong membagikan hal-hal agar merasa berhasil memviralkan. Menghujat sana-sini. Padahal, yang semestinya dilakukan adalah lebih banyak mencaritahu, lalu mengambil pelajaran. Setidaknya hal tersebut jauh lebih bermanfaat daripada ketikan-ketikan komentar yang saling menghujat.

    “Pelaku memang bersalah, tapi korban juga belum tentu benar”. Dari sini, bukan bermaksud membela Sang Pelaku, namun fokus pemikiran kita adalah bagaimana mungkin ada suatu tragedi menggemparkan, dimana belasan siswi SMA membully dan melakukan tindak kekerasan pada anak yang bahkan masih duduk di bangku SMP jika tak ada yang mendasari hal itu terjadi?  Kadang, kita terlalu fokus perihal seperti apa yang ada di depan mata kita, namun lupa mencari kebenaran atas dasar mengapa.

Dari sini, tentu bisa kita ketahui sebesar apa peran keluarga dalam Islam. Dalam Islam, keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan anak, baik fisik maupun mentalnya. Maka, tak heran jika seorang ibu merupakan Pengajar pertama untuk anaknya, dan perempuan adalah tonggak peradaban. 

    Lalu, ada hal yang sangat penting, bahwa bagaimana kejadian serupa atau bahkan lebih parah tak lagi terjadi di kemudian hari. Audrey bukan korban pertama, dan mungkin bukan pula yang terakhir jika kita sebagai manusia yang dibekali akal tak mengambil hikmah dan pelajaran sebagai bentuk pencegahan di masa mendatang. 

    Pertama, dari sisi penyebab awal tragedi menyesakkan ini adalah masalah yang dianggap sepele. Tentu begitu sering kita temui orang-orang saling berkomentar di akun-akun sosial media. Saling menyinggung dan mempermalukan agar merasa menang. Lalu, yang merasa kalah, tak habis cara. Mengandalkan rasa ‘kesenioran’ dan mulai bermain fisik. Bersebab rebutan pengakuan, mana yang lebih terlihat hebat. Karena Sang Kekasih ternyata berpindah haluan.

    Ya, pacaran ala-ala remaja yang masih lemah dalam pemikiran. Masih menganggap pacaran adalah hal paling menarik dan membanggakan. Padahal nyata terlihat rusaknya, dan mereka berhasil menyumbangkan satu lagi hadiah paling menyeramkan, tragedi pengeroyokan.

    Kedua, dari sisi pelaku, kesalahan mereka mungkin sangat besar. Kejahatan-kejahatan mereka mungkin akan sangat membekas di berbagai penjuru. Trauma hebat mungkin sudah cukup membuat korban dan pelaku merasa sangat terpuruk, putus asa dan tak ingin melanjutkan kehidupannya. Merasa sangat tak berguna untuk segala permasalahan yang ada.

    Untuk itu, tugas kita hari ini bukan lagi sibuk berkomentar, menyuarakan segalanya tanpa berfikir panjang konsekuensi di masa mendatang. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Bahwa masalah tak hanya untuk dikomentari. Merespon sesuatu tak selamanya berdampak baik. Sudut pandang kita tak selamanya benar, selama dasar dari pemikiran masih diambang penilaian dunia. Terjebak sistem yang memberi sekat untuk menerapkan aturan Allah secara seluruh. Dan, beginilah. Aturan dibuat oleh manusia. Yang melanggar dikatakan merusak HAM. Seolah mereka lebih berhak mengatur dari Sang Pencipta, Allah azza wa jalla.
Wallahu'alam bishowaab...
 
Top