Penulis : Hamsia (pemerhati umat)

Aksi pembunuhan karakter dan pengangkangan terhadap nilai-nilai demokrasi terus bergulir. Rakyat seakan pemegang demokrasi tertinggi terjerumus dalam drama yang di mainkan dan di kendalikan oleh elite-elite politik tertentu. Kampanye atas nama demokrasi bergema di saentero jagat, aksi jegal menjegal, teror-meneror, tunjuk menunjuk  terus mengalir bagaikan air.

Hasil propaganda politisi dan pendukungnya telah menimbulkan kegaduhan, mulai dari perang urat syaraf, perang tagar, perang kostum, perang ideologi hingga isu lain. Demi kekuasaan setiap orang meninggalkan etika berpolitik yang santun.

Menjadikan radikalisme islam sebagai jualan utama dalam kampanye menjelang pilpres 2019. Menjadi bukti bahwa sistem saat ini telah gagal mensejahterakan rakyat. Beban ekonomi rakyat makin berat. Harga-harga makin mahal, lapangan pekerjaaan makin susah.

Menurut data BPS, pada bulan maret 2018, masih terdapat 25,95 juta orang penduduk miskin (9,82 persen). Puluhan juta rakyat miskin tentu merupakan jumlah yang besar di tengah kekayaan berlimpah negeri ini.

Dalam keadaan gagal di banyak sektor mereka berharap isu radikalisme menjadi hal penting yang bisa di jual. Sebagai pertahanan, dalam berbagai kesempatan Paslon 01 menyebut beberapa ideologi kini mengancam persatuan dan keamanan negara, karena bertentangan dengan pancasila.

Seperti di sinyalir dari Republika.co.id, Jakarta calon presiden no urut 01 mengajak pendukungnya untuk lebih militan dalam menggaet dukungan dari masyarakat yang belum menentukan pilihan untuk pilpres nanti.

Dalam kampayenya di Istora Senayan pada kamis malam (21/3/2019) paslon 01 mengatakan “jangan takut kalau di takut-takuti. Tidak perlu takut karena kita di jaga oleh TNI dan Polri. Saya sudah perintahkan kepada Panglima TNI dan Kapolri untuk menjaga proses demokrasi negara”.

Perebutan kekuasaan di negeri ini bak drama kolosal Baratayuda. Kontestasi politik pemilihan presiden yang tinggal menghitung hari, makin menunjukan betapa kekuasaan nyaris menutup semua saluran dalam diri manusia. Lihat saja bagaimana tebaran fitnah yang di lakukan paslon 01,

Demokrasi semakin buruk, seperti yang di ungkapan Paulo Freire dalam bukunya dengan judul “Pendidikan Kaum Tertindas” terdapat penggalang kalimat “menggembar-gemborkan demokrasi sembari membungkam mulut rakyat adalah sebuah  kebohongan, menganjur-anjurkan kemanusiaan sembari menindas manusia lain adalah sebuah penipuan”. Hal.82.

Sistem demokrasi adalah sistem yang akidahnya adalah sekularisme, jadi tidak heran jika politik di pisahkan dari Agama.Sebuah bukti nyata bahwa sistem politik saat ini menggunakan  “devide et impera” (memecah belah). Pembubaran salah satu pengajian oleh sekolompok ormas yang menamakan diri mereka Ansor dan Banser. Sikap seperti ini sungguh di sayangkan  oleh semua pihak, pasalnya kejadian tersebut melibatkan semua umat islam. Yang sejatinya mereka adalah bersaudara, dan di perintahkan oleh ajaran Islam untuk saling menguatkan satu sama lain. Bukan malah saling bermusuhan berkonfrontasi, dan bertikai.

Sesungguhnya di sistem demokrasi saat ini,tidak akan pernah bisa melahirkan suatu kedamaian dan kesejahteraan, karena para orang-orang yang berpegang pada sistem demokrasi adalah mereka yang haus akan kekuasaan dan kenikmatan dunia, yang tidak mempedulikan rakyatnya.

Sejatinya umat harus mempunyai pemimpin di negeri muslim, termasuk di Indonesia, yang bersikap adil dan lemah-lembut terhadap umat Islam, sebagaimana perintah Allah “dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk tidak berlaku adil, berlaku adil-lah, karena adil itu lebih dekat dengan takwa” (QS Al-Maidah 8).

Para Ulama harus memerangkan diri sebagai hamba yang paling takut kepada Allah SWT, sebagai pewaris para Nabi, yang senantiasa menasehati penguasa ketika menyimpang dari ajaran Islam serta membimbing umat agar tetap berada dalam naungan Islam. Sebagaimana firman Allah “sesungguhnya yang palig takut kepada Allah dari para hamba-hambanya adalah para ulama’ (QS Al-fathir 28).

Elemen umat Islam hendaknya terus memupuk ukhuwah Islamiyah  dan berpegang tali agama Allah serta menjauhkan sikap perpecahan  di antara sesama elemen umat Islam. Firman Allah “dan berpegang tegulah kalian dari tali agama Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah ke padamu ketika kalian dulu masa jahiliyah bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadikan kalian karena nikmat Allah dan orang-orang bersaudara, dan kalian sudah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya” (QS Ali Imran 103).

Maka sudah saatnya umat islam menggalang persatuan dan kesatuan demi tegaknya izzul Islam wal muslimin, dalam bingkai khilafah  Wallahu a’lam bisshowab.

0 komentar:

 
Top