Penulis : Sri Yana

Baru-baru ini media sosial heboh dengan video viral ibu-ibu yang berdurasi 53 detik di Perumnas Teluk Jambe Karawang, Jawa Barat. 2 orang ibu-ibu tersebut berbicara dengan pria tua dalam bahasa Sunda. Yang  merupakan ajakan untuk tidak memilih Capres Joko Widodo nomor urut 01 karena mereka meyakini bahwa Jokowi akan melarang azan dan membolehkan pernikahan sesama jenis.(rmolsumsel.com) Ajakan yang merupakan kampanye hitam itu berisi sebagai berikut:"

"Moal Aya deui sora Azan, moal aya deui nu make tieung. Awewe jeung awewe meunang kawin, lalaki jeung lalaki meunang kawin."
Yang artinya bahwa suara azan di masjid akan dilarang, tidak akan ada lagi yang memakai hijab. Perempuan sama perempuan boleh nikah, laki-laki sama laki-laki boleh nikah. 

Dan akhirnya penggugah video kampanye hitam itu yakni akun @citrawida5 beserta 2 orang ibu-ibu dalam video telah ditangkap oleh Polres Karawang.(m.detik.com)

Dimana ibu-ibu yang seharusnya menjadi ummun warabbatul bait sebagai ibu sekaligus pengatur rumah tangga malah ternodai oleh video viral ini. Rasulullah SAW bersabda: " Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawab atas kepengurusannya."(HR. Muslim)

Ibu lah yang menentukan generasi masa depan bagi anak-anaknya. Karena anak adalah investasi terbesar bagi orang tua. Bagaimana tidak? Anak dapat memasukkan orang tuanya ke surga atau neraka, berarti bagaimana kita mendidiknya. Sejatinya Ibu pasti memberikan pendidikan yang terbaik, bukan! Pendidikan orang tua terutama ibu sebagai madrosatul ula ( sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Barulah kemudian anak-anak dapat bersosialisasi dan belajar di dunia luar.

Video ini terjadi disebabkan oleh kekecewaan para ibu pada Masa era Jokowi, yang mana disaat ini banyak terjadinya kasus-kasus pelecehan seksual. Dan adanya rencana akan disahkan RUU P-KS (Penghapusan Kekerasannya Seksual) oleh pemerintah. Berarti telah membuka jalan selebar-lebarnya bagi pelaku LGBT untuk dilegalkan. Karena RUU P-KS berisi bolehnya zina asal suka sama suka, baik itu laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. 

Akhirnya orang yang menegurnya bisa terkena delik ujaran kebencian (hate speech), bahkan kurungan penjara. Maka perlunya masyarakat untuk melakukan penolakan, agar RUU P-KS tidak jadi disahkan. Karena isinya yang tak sesuai dengan namanya yang bagus, yaitu Penghapusan Kekerasan Seksual yang katanya melindungi perempuan. Alih-alih malah tambah menyengsarakan kaum perempuan, bahkan akan makin banyak lagi kejahatan-kejahatan seksual lainnya. Bagaimana jika sampai disahkan? Naudzubillah.

Selain itu, berkaitan dengan mengumandangkan azan memang pernah ada kasus yang bernama Meiliana yang mengeluhkan suara azan, yang kemudian dipenjara selama 18 bulan karena termasuk menistakan agama. Begitu juga berita pelaranga hijab yang pernah terjadinya di SMAN 2 Denpasar, Bali. Itu semua ada di era Jokowi. Yang membuat ibu-ibu yang geram dengan pemimpin saat ini, hingga kampanye hitam dilakukan.

Tidak lain dan tidak bukan kampanye hitam viralnya ibu-ibu merupakan akibat dan salahnya sistem demokrasi kapitalisme. Tak disangkal lagi telah mengakar di benak kaum muslim. Yang dirasakan baik para ibu, atau masyarakat yang jauh dari tatanan agama. Sehingga dari aspek kehidupan masyarakatnya, sudah kurang mempercayai para pemimpinnya, dikarenakan kekecawaan yang mendalam. Mengatakan akan menyejahterakan rakyat, koq berdampak tambah sengsara. Begitulah demokrasi kapitalisme yang merupakan hukum buatan manusia, tak akan perbaiki keadaan masyarakat.  

Hanya dengan Islam seluruh aspek kehidupan dapat diperbaiki. Karena dalam Islam akan terbentuk tatanan individu-individu yang memiliki perasaan, pemikiran dan peraturan yang sama yang disebut masyarakat. Dengan diterapkan hukum Islam ini, umat akan dipimpin oleh khalifah yang mampu menyelesaikan problematika kehidupan. Dan khalifah bukan dipilih atas kehendak sendiri, tapi atas pilihan umat. Yang mana khalifah memiliki tanggung jawab yang besar dan tak sembarang dipilih. 

Seperti yang dicontohkan pada Masa bani Umayyah, khalifah Umar bin Abdul Azis yang baru terpilih, sering menangis terisak- terisak di malam hari, karena takut akan amanah besarnya yang khawatir ia tak dapat mengurusi umatnya.
Waallahu a'lam bish shawab
 
Top