Penulis : Sri Nurhayati, S.Pd.I
( Pengisi Keputrian SMAT Krida Nusantara)

Peradaban Islam adalah peradaban yang tercatat dalam sejarah memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan dunia. Menurut Montgomery, dalam bukunya ‘Islam dan Peradaban Dunia. Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan’, bahwa tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi dinamonya, Barat bukanlah apa-apa. Sehingga wajar jika Barat memiliki hutang budi pada Islam.

Kegemilangan perabadan Islam, telah lihat dari berbagai macam bidang. Seperti, bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, bidang ekonomi, bidang sosial, bidang hukum dan lain. Kegemilangan ini telah bermula sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya saat merintis masyarakat berperadaban Islam.

Kegemilangan peradaban Islam, tak lepas dari adanya kontribusi dari para perempuan yang menjadi pilar peradaban. Sebagai pencetak para generasi-generasi cemerlang yang akan membangun peradaban gemilang ini. Sejumlah perempuan telah menorehkan kontribusi yang besar, mereka muncul dari berbagai bidang. Seperti pada bidang medis, ada sosok Rufauda al-Aslamiyyah atau sering dipanggil pula dengan nama Rufayda binti Sa’ad. Ia adalah perawat yang hidup pada zaman Rasulullah SAW. Pada Perang Badar, ia bertugas merawat mereka yang terluka dan mengurus personel yang meninggal dunia. 

Selain Rufayda, ada juga sosok Al Shifa binti Abdullah al Qurashiyah al’Adawiyah, kepiawaiannya dalam dunia medis, menjadikan diberikan tugas oleh Rasulullah untuk mengajarkan kepada para perempuan agar menguasai hal medis, walaupun hal yang sederhana, seminyal pengobatan terhadapa gigitan semut. Serta ada juga sosok Nusayba binti Harith, selain sebagai perawat, ia juga adalah tabib khitan.

Selain dalam bidang medis, ada juga dalam bidang pendidikan, seperti Sutayta Al-Mahamil, pakar matematika. Ia sangat menguasai hisab atau aritmatika dan perhitungan waris. Yang menjadi cabang matematika yang berkembang baik di masanya. Dalam aljabar, ia juga telah berhasil menemukan persamaan, yang pada masa selanjutnya sering dikutip oleh pakar matematika lainnya.

Peran dan kontribusi perempuan dalam peradaban Islam ini, tak lain karena Islam memposisikan mereka sebagai sosok yang dapat memberikan kontribusi besar dalam membangun sebuah peradaban, tanpa mendisorientasikan peran dan keilmuannya. Peran perempuan sebagai ummu wa rabbatul bait menunjukkan bagaimana Islam memuliakan perempuan, karena ia sebagai madrasatun al ula (sekolah pertama) bagi putra putrinya sebagai generasi terbaik di masa deoan dan pemegang tonggak sebuah peradaban di bumi ini.

Selain, Islam memandang bahwa dalam kemasyarakatan, perempuan merupakan bagian yang tidak terpisah laki-laki. Keduanya memiliki tugas dan bertanggungjawab untuk mengatur dan memelihara kehiduapan ini sesuai kehendak Allah SWT, Pemilik dan Pengatur bumi dan seisinya. Tugas ini tak lain adalah aktivitas dakwah. 

Tugas dakwah ini tak lain, dengan ikut serta dalam memahamkan umat agar terikat terhadap aturan Islam yang diterapkan oleh Negara dan senantiasa melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS At-Taubah ayat 71, yang artinya: “Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi munkar.”
Semua tugas dan peran perempuan ini, baik dalam dakwah dan ranah publik, dilakukan tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai seorang ibu yang mencetak generasi cemerlang. Ia dapat mengembangkan kemampuan untuk kemajuan Negara dan mengisi perabadannya, tanpa mencabutkan aspek fitrah perempuan. Sehingga tak hanya mereka saja yang mampu memberikan kontribusinya, tapi putra putrinya pun mampu memberikan kontribusinya pada kegemelingan peradaban Islam.
Belajar dari Ibunda Para Ulama
Selain sosok-sosok perempuan yang memiliki kontribusi dalam berbagai bidang. Islam juga memiliki perempuan-perempuan yang telah melahirkan para generasi yang telah menorehkan tinta emas dalam peradaban gemilang Islam. Nama mereka tetap harum dan bersinar walaupun mereka sudah tiada. Seperti sosok Anas bin Malik, salah satu sahabat Rasulullah SAW yang banyak meriwayatkan hadits. Salah satu sahabat yang Allah berkahi dengan harta dan keturunan yang banyak. Beliau lahir dari sosok ibunda yang cerdas dan tangguh, dialah Ummu Sulaim. Shahabiyah yang memiliki kecerdasan dan ketangguhan yang bisa kita ambil darinya. Seperti saat anaknya dari Abu Thalhah meninggal, sedangkan suaminya baru pulang dari masjid. Beliau tidak langsung menyampaikan berita duka itu, tetapi beliau melayani dulu apa yang menjadi kebutuhan suami, seperti biasa suaminya menyantap hidangan makannya, kemudian menggaulinya.

Ketika dipenghujung malam, Ummu Sulaim baru mengatakan berita duka itu dengan cara yang dapat membuat suami pasrah dengan kehendak Allah yang mengambil kembali anak kesayangannya. Ummu Sulaim mengibaratkanya dengan memberikan pertanyaan kepada suami, bagaimana jika ada yang menitipkan sesuatu kepada kita, dan ketika yang punya meminta kembali apa yang dititipkannya. Saat itu beliau menyampaikan bahwa sesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah dan kini Allah telah mengambilnya. Sungguh cara beliau menyampaikan berita duka itu menunjukkan bagaimana kecerdasan dan ketangguhan seorang perempuan. Saat anaknya meninggal dengan tenangnya beliau menyampaikan berita duka itu agar suaminya bisa menerima takdir dan kehendak dari Allah.

Selain Anas bin Malik yang lahir dari wanita mulia Ummu Sulaim, ada sosok lainnya yang namanya tak lekang oleh jaman. Cucu dari Sahabat Rasulullah yang menemani beliau berhijrah. Putra yang lahir dari wanita pemilik dua ikat pinggang dan kakak dari istri Rasulullah SAW, Aisyah binti Abu Bakar. Dialah Abdullah bin Zubair, putra Asma binti Abu Bakar. Bayi laki-laki pertama dalam sejarah Islam, yang telah menggugurkan kutukan orang-orang Quraisy bahwa kaum muslimin tidak akan memiliki keturunan. Lahirnya Abdullah menjadi kabar gembira bagi kaum muslimin di Madinah pada saat itu.

Kontribusi Asma dalam perjuangan Islam sangatlah besar. Saat Rasulullah SAW melakukan perjalanan hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar. Asma yang bertugas mengirimkan makanan kepada Rasulullah SAW di tempat persembunyiaannya gua Tsur. Asma harus mendaki bukit Tsur yang terjal, padahal saat itu beliau sedang hamil besar. Sungguh ketangguhan yang luarbiasa. Tak hanya itu, untuk mengelabui kaum Quraisy, saat berjalan Asma menuntut kambing-kambing di belakangnya, agar jejak kakinya tidak terlihat. Sehingga kaum Quraisy tidak bisa mengikutinya ke tempat Rasulullah SAW. Itulah salah satu kecerdasan beliau.

Dari ketangguhan dan kecerdasan Asma, telah lahir generasi tangguh juga seperti Abdullah sang merpati Masjid. Saat dirinya telah dikepung oleh pasukan Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi. Beliau meminta nasehat kepada ibunya, Asma. Pesan beliau kepada anaknya menunjukkan betapa tangguh dan kuatnya seorang ibu. Asma berpesan agar Abdullah jangan pernah takut dalam mempertahankan kebenaran. Ketangguhan itu pun semakin terpancar dari sosoknya, saat Hajjaj sang pembunuh anaknya dan mengatakan kepadanya bahwa dia telah merusak dunia anaknya. Jawaban Asma begitu mantap dengan mengatakan bahwa engkau memang telah merusak dunia anakku, tapi sesungguhnya anakku telah merusak akhiratmu. Sungguh itu jawaban yang cerdas dan menunjukkan ketangguhan Asma.

Itulah bagian kecil dari sosok-sosok ibu dan generasi yang telah menorehkan tinta emas dalam Islam. Masih banyak sosok-sosok yang lain, seperti Nusaibah binti Ka’ab yang telah mencetak para mujahid, Al Khansa ibunda para mujahid, ‘Aliyah ibunda dari Imam Malik bin Anas, Fathimah binti Ubeidillah ibunda Imam Syafi’i, serta yang lainnya  yang tidak bisa dijelaskan disini. Karena memerlukan banyak halaman yang menceritakan sosok mereka.

Islam Menjaga Peran Perempuan agar dapat berkontribusi di Ranah Publik atau Sebagai Pembentuk Generasi.

Pentingnya peran perempuan dalam sebuah peradaban, sesungguhnya Islam memiliki aturan yang akan memudahkan seorang perempuan agar bisa berkontibusi dalam ranah publik tanpa meninggal fitrahnya sebagai seorang ibu dan menjalankan peran pentingnya, seperti, mewajibkan dan memerintahkan bagi seorang ayah untuk mencukupi nafkah ibu. Bahkan bila ibu diceraikan saat menyusui, ayah wajib membayar upah penyusuan ( QS. Al-Baqarah ayat 234). Ini bertujuan agar ibu tidak perlu bekerja saat menyusui sehingga mengganggu hak anak mendapatkan penyusuan yang sempurna. Disini pula menjadikan perempuan bisa mengembangkan potensinya tanpa terbebani dengan masalah mencari nafkah. Sambil menyusui ia bisa belajar apa yang ia minati.

Selain itu, untuk mengoptimalisasi peran ibu dalam menjalankan tugasnya mengasuh dan mendidik anak, ibu dibebaskan dari berbagai kewajiban seperti sholat berjamaah di masjid, bekerja, berjihad, dan hukum-hukum lain yang akan menelantarkan fungsi keibuannya. Sehingga ia pun bisa menjalankan dan mengembangkan keahlian yang ia miliki.

Islam menetapkan aturan-aturan terkait seputar kehamilan, penyusuan, pengasuhan dan perwalian. Tak lain agar perempuan tetap dapat optimal dan menjalankan peran utamanya. Selain itu, Islam memiliki aturan yang sempurna untuk menjaga agar perempuan dalam menjalankan kontibusi tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai seorang ibu. Islam menjadikan Negara memiliki peran yang sangan penting dalam menjaganya. 

Semua itu akan terwujud dalam penerapan aturan Islam secara kaaffah dalam bingkai Khilafah, peradaban  kegemilang Islam yang akan kembali mengisi kancah kehidupan ini. Wallahu’alam bi ash-ashawab. (dari berbagai sumber)
 
Top