Penulis : Lulu Nugroho (Cirebon)

Masih tentang kisah negeri kardus. Sebuah negeri yang banyak sekali menggunakan kardus. Kardus untuk menampung berbagai benda. Kardus bekas pun, masih dicari, sebab laku dijual. Limbah kardus juga bisa dibuat berbagai karya kreativitas. Bahkan saking kreatifnya, ada penduduk negeri ini yang rumahnya pun terbuat dari kardus.

Tidak hanya disukai manusia, kardus juga disukai lingkungan. Sebab kardus ramah sekali kepada lingkungan. Bahan dasar kardus, terbuat dari kertas yang merupakan produk dari bubur tumbuhan. Berbeda dengan plastik membutuhkan waktu yang lama dalam penguraiannya. Apabila plastik terbuang di lingkungan dapat menimbulkan polusi. Sedangkan kardus tidak, sebab mudah hancur menjadi bubur.

Hingga kemudian kardus naik daun beberapa bulan terakhir ini. Netizen ramai membicarakannya. Kali ini sebab sangsi terhadap benda satu ini. Bukan karena tak cinta pada kardus, karena sehari-hari pun mereka terlibat dengan kardus. Fungsinya yang serba guna, terbukti memudahkan aktivitas. Akan tetapi yang membuat umat menjadi resah gelisah, ketika suara mereka akan dimasukkan dalam kardus. 

Seberapa amankah suara mereka di dalam sana? Umat tahu betul bagaimana kualitas kardus. Sebab keseharian hidup mereka memang tak jauh dari kardus. Apalagi ketika ditambah kait ala kadarnya yang melingkari penutupnya. Sungguh mengkhawatirkan membayangkan suara-suara itu akan mudah hilang terbawa angin.

Apalagi kemudian beredar kabar bahwa sejumlah kotak surat suara yang tersimpan di dalam gudang logistik Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Cirebon, rusak pada Sabtu (9/2/2019). Hujan deras dan angin kencang membuat air masuk melalui sela-sela gerbang dan menggenangi sejumlah kotak surat suara yang terbuat dari kardus.

Ketua KPU Kabupaten Cirebon Asep Saefudin Jazuli, memperkirakan, kardus yang terkena air berjumlah sekitar 200 dari total sebanyak 14.745 buah kotak surat suara yang sudah disusun. KPU Kabupaten Cirebon, kata Asep, membutuhkan sebanyak 33.730 kardus kotak surat suara untuk Pemilu serentak April mendatang.

“Hitung-hitungan saya tidak banyak, paling 100 sampai 200 buah kotak yang terkena air. Saya optimis, tidak semuanya yang dianggap rusak, karena pas dijemur sudah kembali mengering, dan kembali layak sebagai logistik pemilu,” kata Asep. (Kompas.com 9/2)

Ternyata angka mencengangkan justru didapati Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Jabar. Ia menemukan 2.463 kotak suara di Jabar yang rusak. Hal tersebut diketahui saat Bawaslu Jabar mengawasi langsung ke 27 kabupaten kota di Jabar untuk memonitor pengadaan logistik Pemilu 2019.

"Kami menemukan di Jabar sebanyak menemukan 2.463 kotak yang rusak. Di Kabupaten Cirebon saja, kota suara yang rusaknya 2.298 karena disimpen di gudang," ujar Abdullah Ketua Bawaslu Jabar di Kota Bandung, Jumat 15/2/2019. (Tribunnwes.com 15/2)

Ini memang bukan tentang suara Nabi Daud Alaihi Salam, yang merdu. Yang disebutkan dalam Alquran surat Sad ayat 18 sampai 20, hingga burung-burung dan binatang liar terlena dan turut bertasbih mengikuti Daud. Ini tentang suara yang lain. Suara yang akan menentukan kondisi umat selama 5 tahun mendatang. Betapa umat menantikan datangnya momen ini agar terjadi perubahan yang signifikan dalam kehidupan mereka.

Umat merasa bahwa suara mereka benar-benar akan menentukan perubahan. Menjadikan hidup mereka lebih sejahtera layaknya negeri Saba', baldatun thoyibatun wa rabbun ghofur. Akan tetapi keberadaan suara kardus jelas mengkhawatirkan. Berpeluang hilang dan rusak sebagaimana tempat penyimpanannya. Kardus memang ideal sebagai tempat penyimpanan, tapi tidak untuk suara umat. 

Akhirnya diskusi seputar suara kardus, semakin menambah panas suhu udara perpolitikan di negeri ini. Tidak hanya tentang debat capres-cawapres yang telah masuk putaran kedua. Juga berbagai fakta yang muncul seputar isyu yang beredar di tengah umat. Sedangkan diskusi tentang sistem yang tepat untuk mengurusi umat, malahan luput dari perhatian. Padahal itulah bagian terpenting.

Sepertinya umat masih sepakat dengan ide-ide demokrasi yang dibawa sekularisme. Kembali menggunakan skenario demokrasi, dan hanya merubah pemeran utama dengan pemeran pengganti. Akal-akalan demokrasi dengan segala ide kebebasannya yang diagung-agungkannya,  membuat pesta 5 tahunan ini lebih mirip tayangan infotainment. Minim kesungguhan merubah nasib umat.

Menghabiskan dana besar, akan tetapi tidak membawa perubahan yang hakiki pada kehidupan umat. Permasalahan umat yang menggurita, hanya bisa diakhiri dengan solusi sahih dan mendasar agar  tuntas seluruh persoalan. Sebab, berbagai masalah yang muncul di negeri ini, sejatinya diakibatkan kesalahan sistem yang digunakan untuk mengurusi umat.

Sekarang adalah saat yang tepat mengganti suara kardus dan seluruh pemikiran kardus yang tidak berkelas. Tidak perlu kardus untuk sampai pada perubahan hakiki. Umat bisa mengamanatkan suaranya pada ahlul hali wal aqdi untuk memilih pemimpin yang dipercaya. Yang mau menerapkan syariat Islam, yang terbukti mampu membawa umat pada peradaban gemilang. Tsumma takuunu khilafatan 'ala minhajin nubuwwah.

*Muslimah Revowriter Cirebon
 
Top