Penulis : Sofia Ariyani, S.S 
(Member Akademi Menulis Kreatif)


Beberapa hari ini kata "jancuk" mendadak viral. Tak hanya di media sosial bahkan viral pula di dunia nyata. Tua, muda hingga anak-anak mengucapkan diksi "jancuk", gelar yang disematkan oleh pemuda Surabaya kepada presiden RI Joko Widodo pada kunjungannya ke Surabaya beberapa hari yang lalu dalam rangka deklarasi dan penyematan PIN Tim Blusukan Jatim. (Jatimnet.com)

Adakah yang salah dengan kata "jancuk"?
Begini, biasanya perbuatan dan perkataan seseorang itu lahir dari pemahaman yang ia punya atau dapat. Dan pemahaman atau informasi ini didapat dari bahasa. Jika pemahamannya atau informasinya benar atau baik maka akan melahirkan perbuatan dan perkataan yang benar atau baik, dan sebaliknya jika pemahaman atau informasinya tidak benar atau buruk maka itu pun akan melahirkan perbuatan dan perkataan yang salah atau buruk.

Lalu bagaimana diksi "jancuk" bisa menjadi suatu gelar yang kabarnya adalah gelar kekinian bagi pemuda surabaya tanpa lagi melihat makna dari kata tersebut?
Dapat dipastikan mereka mendapatkan pemahaman atau informasi yang salah atau buruk. Maka mereka menganggap "jancuk" adalah diksi yang tidak salah, malah kekinian.
Lalu apakah pantas pula disematkan kepada orang nomor 1 di Indonesia ini?
Semestinya "jancuk" sangat tidak pantas dijadikan gelar bagi siapa pun terutama bagi seorang presiden, karena menurut Kamus Daring Universitas Gadjah Mada , istilah “jancuk, jancok, diancuk, diancok, cuk, atau cok" memiliki makna “sialan, keparat, brengsek (ungkapan berupa perkataan umpatan untuk mengekspresikan kekecewaan atau bisa juga digunakan untuk mengungkapkan ekspresi keheranan atas suatu hal yang luar biasa)”.

Lalu mengapa pemberi dan penerima gelar "jancuk" nampak tidak masalah?
Walau bermakna negatif namun bagi warga Surabaya kata "jancuk" adalah kata sapaan yang sudah terbiasa digunakan oleh masyarakat setempat, jadi kata yang buruk tadi sudah menjadi pemahaman yang dianggap biasa.
Ya, kita dapat menyimpulkan bahwa pemahaman mereka ada yang salah atau buruk, karena menggunakan kata negatif untuk menyapa atau menggelari seseorang. Walau menurut pemberi julukan, kata “jancuk” merupakan akronim dari Jokowi, amANah, Cakap, Ulet, Kreatif. Namun tetap saja mengambil dari kata yang bermakna negatif.

Jika melihat fitrah manusia yang selalu ingin mendapatkan pujian yang baik, bagus dan terhormat. Adalah aneh jika manusia menginginkan sebaliknya.

Nabi Muhammad adalah seorang Rasul yang senantiasa perkataan dan perbuatannya dibimbing Allah SWT melalui malaikat Jibril. Beliau Saw mendapatkan pemahaman atau informasi yang benar dari Allah, sehingga perkataan dan perbuatannya terpuji. Maka tak heran beliau Saw sudah mendapatkan gelar Al Amin, Fathonah, dan Tabligh sebelum beliau diangkat menjadi Rasul.

Para sahabat pun memiliki gelar yang luar biasa. Seperti Umar bin Khaththab digelari Al Faruq yang artinya mampu membedakan antara yang haq dan bathil. Abu Bakar Ash Shidiq digelari Ash Shidiq yang berarti benar, karena beliau membenarkan apa yang dibawa Rasulullah Saw ketika mendapatkan wahyu. Utsman bin 'Affan digelari Dzun nurain yang berarti dua cahaya. Ali bin Abi Thalib digelari Haidar yang berarti singa, karena keberaniannya melawan musuh-musuh Allah. Thoriq bin Ziyad digelari Penakluk Andalusia. Khalid bin Walid mendapat julukan "syaifullah atau pedang Allah" karena tak terkalahkan di medan laga. Hingga Sultan Mehmet II digelari "Alfatih" karena kecerdasannya mampu menaklukkan Konstantinopel.

Jika kita perhatikan gelar-gelar di atas memiliki makna yang positif dan terpuji.
Jadi sesuai dengan fitrah manusia tadi yang menginginkan pujian yang baik bukan yang buruk.
Walau pun Rasulullah Saw dan para sahabat berbuat dan berkata bukan dalam rangka ingin mendapat pujian, namun karena perbuatan dan perkataan mereka dibimbing oleh Kalam Sang Pencipta alam semesta yaitu Alquran Al Karim maka akan melahirkan perkataan dan perbuatan yang mulia hingga pantas mendapatkan pujian mulia pula.

Teringat akan kisah Fir'aun. Raja yang terkenal kesombongannya, kekejamannya, kedzalimannya, kediktatorannya dan durhaka terhadap Allah SWT. Julukan-julukan itu tersemat pada Fir'aun karena apa yang telah dilakukannya terhadap rakyatnya. Julukan atau gelar dengan sendirinya akan senantiasa menempel pada syakhsiyah (kepribadian) manusia itu sendiri. Fir'aun mendapat julukan-julukan buruk itu karena perkataan dan perbuatannya tidak mau dibimbing oleh Allah SWT, yang malah durhaka terhadapNya.

Begitulah sunnatullahNya, sesiapa yang memuliakan Allah maka Allah, penduduk langit dan bumi akan memuliakan pula. Pun sebaliknya sesiapa yang menghinakan Allah dan RasulNya maka penduduk langit dan bumi akan menghinakannya.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT bila mencintai hamba-Nya memanggil Jibril seraya berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia.’” Rasulullah bersabda, “Maka, Jibril pun mencintai si fulan.” Lalu, Jibril menyeru semua penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan.” Nabi bersabda, “Maka, si fulan dicintai penduduk langit dan dia pun diterima oleh penduduk bumi.”

Jika Allah membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, “Sesungguhnya Aku membenci si fulan, maka bencilah dia sehingga Jibril pun membencinya.” Rasulullah bersabda, “Lalu, Jibril menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah membenci si fulan, maka bencilah dia.’” Penduduk langit pun membenci si fulan, kemudian dia pun dibenci penduduk bumi. (HR Bukhari dan Muslim).

Dan Allah SWT menegaskan di dalam firmanNya,

ؕ وَ کَثِیۡرٌ حَقَّ عَلَیۡہِ الۡعَذَابُ ؕ وَ مَنۡ یُّہِنِ اللّٰہُ فَمَا لَہٗ مِنۡ مُّکۡرِمٍ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَفۡعَلُ مَا یَشَآءُ
Artinya:
Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya.
Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.  (QS. Al Hajj: 18)

Wallahu'alam bishawab.
 
Top