Penulis : Nur Aina (Aktivis Dakwah)

“Almuslimu akhul muslim laayashlimuhu walaayu’khidzuhu walaayuslimuhu”, “ Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain oleh sebab itu janganlah mendzalimi dan meremehkan dan jangan pula menyakitinya” (HR. Ahmad, Bukhari dan muslim). Hadist ini dengan tegas mengingatkan kita bahwa muslim di seluruh dunia adalah bersaudara, suatu hubungan yang lebih kuat dari hubungan darah. Tapi sayang kini kaum muslim terpecah, lemah, dan teraniaya.
 
Sebagai Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di Dunia, Indonesia punya tanggung jawab moral lebih atas nasib jutaan muslim Uyghur.” Sebab jika tidak ini bisa menjadi bencana kemanusiaan yang lebih besar”. Tegas fadhil di laman artikel Hidayatullah.com
 
Antara Muslim Indonesia dan Uyghur Xianjiang memiliki ikatan persaudaraan yang erat. Persaudaraan yang tak biasa. yakni di bangun atas dasar keimanan yang kokoh dan bukan di ikat dengan perjanjian semu duniawi. Dengan demikian, keeratan saudara sesama muslim itulah yang akan menumbuhkan tindak pembelaan terhadap saudara lainnya (Muslim Uyghur).

Sebagaimana diketahui, penderitaan muslim Uyghur yang berlangsung kurun tiga tahun terakhir ini. Mereka dilarang menggunakan simbol-simbol islami, termasuk Al-qur’an dan nama yang berbau keIslaman. Tak hanya itu, para wanita muslim di larang mengenakan hijab yang seharusnya menjadi pakaian wajib bagi perempuan dan mereka di paksa menikah dengan tentara zionis China. Kebijakan Negara China mengharuskan setiap anak di pisahkan dengan kedua orangtuanya lalu di ajarkan keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Para orang tuanya  dipenjara, dipaksa makan Babi dan minum alkohol. Lalu bagi mereka yang melawan atas kebijakan tersebut akan menerima pembantaian keras yang dilakukan tentara China atas perintah pemimpinnya.

Lalu, dengan melihat pembantaian terhadap Uyghur apa perlakuan kita sebagai seorang Muslim?, Indonesia adalah mayoritas muslim dan selayaknya kita bisa memberikan perlakuan moral lebih besar atas mereka.  jika kita masih acuh dengan pembantaian terhadap muslim Uyghur ini, sesungguhnya kekacauanlah yang akan terjadi di bumi.

Diamnya pemerintah Indonesia atas tindakan sadis dan pembantaian yang di lakukan pemimpin China terhadap muslim Uyghur menunjukkan bahwa ia  bukanlah cerminan pemimpin Negara yang baik. Seharusnya sebagai seorang muslim sekaligus pemimpin yang berkuasa akan menunjukkan keperduliannya terhadap muslim yang lain. Ia juga wajib melindungi dan mengurusi rakyatnya serta menjaganya dari segala mara-bahaya.

Tuntutan sebagai seorang muslim berlaku di  dunia dan di akhirat. Sebab, kesengsaraan yang dirasakan muslim Uyghur pasti tercatat sampai ke akhirat kelak dan dengan catatan tersebut mereka akan meminta hujjah (Pertanggung jawaban) kepada muslim lain yang tidak berusaha mengabdikan seluruh jiwa dan raganya pada Islam.

Diamnya pemerintah Indonesia dan Negara-negara islam lainnya adalah buah dari penerapan sistem kapitalis demokrasi. Suatu sistem buatan kafir yang bertentangan dengan perintah sang kholiq. Alhasil setiap peraturan yang lahir dari sistem ini hanya mengutamakan kemaslahatan bagi segelintir orang. Untung rugi adalah lantasan kebijakan. Indonesia adalah Negara yang banyak bergantung pada China, sehingga tak mampu melawan setiap perlakuan zionis terhadap muslim Uyghur. Indonesia juga sebuah Negara yang kaya, namun sayang tidak mampu mandiri dan terus bergantung pada Negara lain. Hal inilah yang akhirnya membuat Indonesia hanya bisa bungkam dan menganggap bahwa masalah Uyghur adalah masalah internal China yang tidak perlu dicampuri.

Hal ini jelas berbeda jika sistem yang diterapkan adalah sistem islam. Dengan penerapan sistem islam seluruh kebijakan yang diambil pastilah berdasarkan pada ketentuan sang kholiq. Islam dalam penerapan sistemnya telah terbukti mampu menjaga keamanan setiap warga yang dinaungi baik muslim maupun nonmuslim. Dalam sistem islam pemimpin atau kholifah adalah seorang yang tegas dan pemberani. Ia juga tidak akan membiarkan negaranya didikte oleh Negara lain dengan memastikan kemandirian dalam mengatur urusan negerinya. Pemimpin dengan sistem islam sangat menghargai nyawa dan harga diri seorang muslim. Sebagaimana Kholifah mu’tashim billah yang memberikan ketentraman dan kenyamanan terhadap rakyatnya, satu di antara perlakuan dalam perlindungannya ialah  saat ada seorang wanita yang disingkap jilbabnya oleh seorang pria, lalu seseorang mengadukan kasus tersebut kepada Kholifah mu’tashim billah. Dan pada saat itu pula Kholifah langsung menerjunkan jutaan bala-tentaranya untuk menangani kasus tersebut. Begitulah sedikit gambaran Negara dengan sistem islam (Daulah Islamiyyah) yang sangat mementingkan keperluan ummatnya, bukan malah diam melihat muslim lain mengalami penindasan seperti  yang terjadi di Uyghur saat  ini.


Jadi sudah seharusnya kita sebagai muslim untuk mengupayakan semaksimal mungkin untuk menolong saudara muslim kita di Uyghur dan  Negara yang lain. Penindasaan yang terus terjadi pada umat muslim di banyak Negara adalah akibat adanya sekat Negara yang memisahkan. Ibarat sebuah lidi yang dilepaskan tali ikatannya, maka lidi tersebut menjadi lemah dan gampang dipatahkan. Dan inilah fakta yang terus terjadi, umat muslim yang banyak namun lemah dan selalu ditindas oleh kaum yang lebih sedikit namun seakan kuat. Kediaman kita kelak akan menjadi bencana diakhirat untuk setiap jiwa yang diam terhadap saudaranya yang tertindas. Hanya ada satu solusi yang dapat menghindarkan kita dari azab dunia dan akhirat serta pertanggung jawaban yang akan menuntut kita nantinya. Solusi tunggalnya ialah  menolong ummat Muslim Uyghur dengan menjalankan kewajiban terbesar saat ini.  yakni dengan berjuang menegakkan hukum Allah dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Karena hanya dengan menegakkan Negara itulah ummat muslim akan bersatu dan muslim yang ada di Uyghur dan muslim lainnya yang masih dalam jajahan dan setiran para tangan-tangan munafik akan terbebas dan  bisa hidup tentram dengan aturan Islam.

Jadi, mari sama-sama kita bergabung untuk berjuang dan menggaungkan kepemimpinan Islam yang sangat apik dalam mengurusi seluruh problem kehidupan manusia yakni khilafah. Demi keselamatan kita pada tuntutan di akhirat maka segeralah berjuang sebelum kematian datang menerjang.
 Wallahua’lam bishawaab.
 
Top