Penulis : Isnawati

Ratu (Refleksi Akhir Tahun) 2018 menyisakan banyak cerita dalam sebuah fakta. Klaim tentang keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan APBN tahun anggaran 2018 hanya dianggap sebagai angka yang berjejer tanpa mengetahui fakta oleh beberapa kalangan.

Penerimaan negara sebesar 100% ditahun 2018 membuat Menteri Keuangan Sri mulyani tidak mengadakan perubahan undang-undang terkait APBN dan hal ini pertama kalinya dalam kurun waktu 15 tahun sebab dirasa sudah cukup baik dan  tidak mengalami deflasi yang besar serta devisit. Detik finance ( 3 Januari 2019 ).

Pendapatan APBN meliputi 3 unsur yakni pendapatan negara, belanja negara dan pembiayaan negara. Pemerintah mengasumsikan pertumbuhan ekonomi 2018 diangka 5,4%, tingkat inflasi 3,5%, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan sekitar 13.400 per USD, lifting minyak dan gas bumi diperkirakan mencapai 800 ribu barel per hari dari 1200 ribu barel setara minyak per hari dan ternyata asumsi tersebut meleset sebab adanya badai ketidak pastian global yang saat ini menggerakkan nilai tukar rupiah menyentuh level 15.000 per USD walau begitu anggaran dinyatakan masih aman dibawah 2 %.

Itulah ungkapan prestasi yang menutupi kedunguan sistem dimana umat terus saja dibohongi dengan angka-angka yang tidak ada hubungannya dengan peningkatan kesejahteraan bagi mereka. Padahal kebahagiaan bagi mereka sangatlah sederhana tidak butuh angka yang berjejer tanpa mereka mengerti. Umat hanya butuh terpenuhinya sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan guna hidup tentram dalam bermasyarakat bahkan bernegara.

Konsep ekonomi kapitalisme memang hanya mengukur kesejahteraan dari angka-angka, faktanya yang diuntungkan bukan umat tapi para kapitalis. Umat hanyalah penunggu setia janji-janji tanpa bukti, kemelaratan yang tak kunjung hilang.

Fiskal yang digadang-gadang sebagai solusi sejatinya hanya instrumen belaka yang berakibat semakin nyaringnya jeritan kemiskinan pada umat, tujuan agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi demi kesejahteraan umat kandas berbekas derita.

Ketika penurunan angka kemiskinan hanyalah semu dan temporer, maka keterpurukan itu akan semakin meningkat. Politisasi urusan publik berarti mempermainkan hidup umat.

Kemiskinan bukan hanya sekedar masalah jumlah dan persentase penduduk miskin tetapi kemiskinan adalah bukti gagalnya suatu peradaban sebuah negara dan kemiskinan ini sangat jelas nampak terpapar didepan mata terutama di daerah pedesan sehingga muncul narasi yang fakir yang terpinggir.

Data kemiskinan hanya perkara utak atik angka dimana penguasa hanya peduli dengan penjagaan angka kemiskinan bukan pemberantasan kemiskinan yang berakibat ketimpangan hingga mendorong kohesi ketimpangan lainnya, konflik sosial dan politik tak dapat dihindari.

Refleksi akhir tahun 2018 berujung belenggu adalah fakta bukan sekedar narasi dari rentetan sebuah peristiwa.Perubahan hakiki merupakan kebutuhan yang mendesak perubahan yang membawa kesejahteraan bagi seluruh makhluk.

Perubahan hakiki hanya ada pada Islam dimana dalam Islam tidak ada pembagian fungsi negara yang ada peran negara yang harus bertanggung jawab penuh dan langsung tanpa memilah dan memilih antara yang kaya dan miskin mulai dari mendesain program-program agar bisa menyentuh semua lapisan umat.

Parameter dalam Islam adalah Aqidah dan Syariah Islam dengan komitmen dan kesabaran demi terwujudnya kesejahteraan dan kebaikan umat. Tatanan hukum dan aturan dalam Islam menjadi pengawasan yang melekat menuju peradapan yang tinggi, maju dan memimpin dunia. Fakta ini pernah terjadi dalam negara Khilafah yang menguasai hingga 2/3 dunia.

Syariah Islam dan menerapkan seutuhnya adalah arah perubahan yang benar guna menyebarkan rahmat kepenjuru alam. Harapan Refleksi Akhir Tahun berubah menjadi senyum kebahagiaan bagi umat pasti terwujud.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan takwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ( QS. AL- A`raf 96 ). Wallahu a`lam bis aswab.
 
Top