Padang - Lambatnya penyelasaian proyek pembangunan menara Masjid Raya Sumatera Barat (Sumbar) menuai berbagai persoalan. Mulai dari keterlambatan jadwal penyelesaian, hingga menjadi temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Perwakilan Sumbar.

Bahkan pembangunan menara setinggi 85 meter itu menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan(BPK)Perwakilan Sumbar. Petugas Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) proyek tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Bina Mental pada Biro Bina Mental dan Kesra Setdaprov Sumbar Karimis saat ini kerepotan menjawab pertanyaan wartawan.

Pasalnya, hasil pemantauan BPK lanjut Karimis, BPK menemukan besi railing tangga menara (bagian dalam menara Masjid Raya Sumbar) tidak sesuai dengan kontrak yang dikerjakan kontraktor PT Marlancho tersebut.

Atas hal itu,  mengerjakan proyek tersebut harus mengembalikan kelebihan jumlah yang sudah ditotalkan sebesar Rp 118 juta ditambah denda keterlambatan kontrak sekitar Rp 460 juta.

Jumlah tersebut yang harus dikeluarkan pihak kontraktor PT Marlancho. BPK telah menyampaikan kisaran yang harus dibayar. Pembayaran proyek ini dilakukan saat APBD Perubahan, dan nanti akan dilakukan pemotongan langsung.

Pengerjaan pembangunan Menara itu saat ini sudah hampir selesai. Meski memang, Provisional Hand Over ( PHO ) secara administrasinya belum dilakukan. Namun saat ini, masih ada pengerjaan finishing yang dilakukan.

Dana sebesar Rp1,3 miliar lagi untuk menara tersebut. Dana itu untuk memperindah menara yang kelak juga akan digunakan sebagai lokasi melihat hilal Ramadhan di Kota Padang itu.

Untuk diketahui, menara Masjid Raya Sumbar yang memiliki tinggi 85 meter terdiri dari 3 balkom. Balkom 1 diketinggian 12 meter, Balkom 2 ketinggian 40 meter. Disini dapat terlihat keindahan Kota Padang. Sedangkan Balkon 3, nantinya dapat digunakan untuk melihat hilal.

Total anggaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan masjid itu hingga selesai mencapai Rp 256 miliar. Jumlah yang sangat besar itu disebabkan, struktur bangunan yang dibuat tahan terhadap gempa.

Masjid yang dipenuhi ukiran khas Minangkabau yang mempesona itu terdiri atas tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang salat terletak di lantai dua, terhubung dengan teras terbuka yang melandai ke jalan.

Bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas 40.343 meter persegi itu berbentuk persegi yang melancip di keempat penjurunya. Ini melambangkan bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad dengan memegang masing-masing sudut kain. Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat Minangkabau Rumah Gadang.

Menyikapi lambannya pengerjaan menara tersebut, kabarnya Kamis sore (10/1) Gubernur Sumbar Irwan Prayitno akan meninjau pengerjaan menara Masjid Raya Sumbar tersebut.
 
Top