Oleh : Verawati
Praktisi Pendidikan

Innalillahi wa innailaihi rajiiuun, sesungguhnya kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya. Turut berduka atas musibah tsunami yang menimpa saudara-saudara di wilayah Pantai Banten dan Lampung Sabtu 22 Desember 2108 lalu.  Semoga yang meninggal semoga mendapat p tempat yang layak di sisi Allah SWT. Bagi yang masih hidup semoga mendapatkan kesabaran dan kelapangan hati. Tentu musibah ini sangat menyisakan luka dan derita yang begitu mendalam. Bagi yang mengalai terdempak tsunami tersebut. Tidak hanya nyawa,  kerugian dan kerusakan materi pun  cukup besar. Namun harus diyakini bahwa musibah ini datang dari Allah SWT Sang Penguasa manusia dan alam raya ini. Sehingga kita harus Ridha dengan segala ketetapan-Nya.

Tsunami Banten yang terjadi Sabtu 22/12 datang begitu cepat dan dahsyat. Tsunami ini tidak ditandai dengan gempa yang biasa mengawali adanya tsunami. Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, terjadi erupsi dan sebagian besar material gunung anak Krakatau tersebut jatuh ke laut. Hal inilah yang memungkinkan terjadinya gelombang laut yang cukup besar. 

Dalam bencana ini, Jumlah korban meninggal hingga Selasa (25/12/2018) pukul 13.00 WIB, sebanyak 429 orang, 1.485 orang mengalami luka-luka, dan 154 orang hilang," ujar Sutopo di Graha BNPB, Matraman, Jakarta Timur, Selasa (25/12/2018) dikutip dari TribunJakarta.com. selain korban jiwa, tsunami pun meluluh lantahkan bangunan fisik seperti rumah, hotel dan lainnya. Ini terjadi di  Kabupaten Serang, Pandeglang, Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus. Dari kelima kabupaten tersebut, Kabupaten Pandeglang menjadi daerah paling parah terdempak tsunami. Kerugian yang cukup besar.

Betul tidak ada yang tahu musibah itu kapan datangnya. Tapi manusia dengan kemampuan yang dimiliki bisa berusaha untuk meminimalisir  jatuhnya korban yang banyak. Seperti pemasangan alat deteksi dini tsunami (buoy) yang mengeluarkan  tanda peringatan bahaya tsunami. Namun sungguh ironi.  Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia ini nyaris tak punya alat tersebut.

Dahulu pernah memilikinya sebanyak 22 buah. Karena kurangnya perawatan dan lemahnya pengawasan alat-alat tersebut saat ini banyak yang hilang dan tidak berfungsi lagi.
Sebagaimana dilansir oleh media Merdeka.com 22/12. Ketua Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Tiar Prasetya mengatakan, alat pendeteksi tsunami (Buoy) untuk Perairan Selat Sunda sudah lama hilang. Adapun itu milik Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT). Begitu pun di berbagai pantai lainnya buoy ini sudah tidak ada lagi, kalau pun ada tapi sudah tidak berfungsi lagi.

Harusnya pemerintah belajar dari peristiwa tsunami yang terjadi di Donggala Palu. Akibat ketidak adaan alat pendeteksi dini tsunami tidak ada informasi yang di berikan pada masyarakat sehingga korban yang jatuh begitu banyak.

Dengan alasan tidak tersediaannya dana untuk pengadaan dan pemeliharaan bouy akhirnya masyarakat banyak yang menjadi korban. Ya, sepertinya nyawa manusia di negeri ini sudah tak berharga lagi. Katanya  negeri ini kaya raya.  Kamana kekayaan negeri  ini? Dimana tanggung jawab penguasa atas keselamatan rakyatnya? Akankan hal ini terus dan terus berulang?

Sungguh berbeda dengan penguasa Islam. Pernah suatu ketika Khalifah Umar Bin Khatab menerima informasi bahwa ada seekor keledai yang jatuh dan terperosok di kota Irak akibat jalan berlubang. Mendengar hal tersebut Umar hampir menangis dan segera memerintahkan untuk memperbaiki jalan tersebut. Sang ajudan kemudian bertanya” Wahai Khalifah, bukankah yang jatuh hanya seekor keledai? Umar menjawab dengan nada serius dan menahan  marah, “Apa yang akan engkau pertanggungjawaban di hadapan Allah jika engkau jadi pemimpin?  Serunya 

Begitulah penguasa dalam Islam, mereka adalah pengayom dan pengurus rakyat.  Penguasa ibarat penggembala , yang akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalanya. Jangan kan nyawa manusia nyawa seekor hewan pun sangat diperhatikan. Selain itu, sistem Islam begitu sempurna dalam hal mengatur dan mengurusi umat termasuk saat terjadi musibah bencana alam. Diantaranya ada pos khusus untuk bencana dalam Baitul mal sehingga penanganan bencana cepat terselesaikan.
Satu hal lagi yang begitu membedakan penguasa Islam dengan yang lainnya.

Penguasa menganggap bahwa  masalah bencana adalah qodho dari Allah. Allahlah yang menghendaki, sehingga ketika bencana terjadi dipahami bahwa telah banyak kemaksiatan. Sehingga penguasa mengajak pada seluruh warganya untuk bertobat, mohon ampun dan kembali pada Syariat Allah. Sebagaimana perkataan Umar saat terjadi gempa di Madinah. Wahai penduduk Madinah, apakah kalian berbuat dosa? Tinggalkan perbuatan itu atau aku yang akan meninggalkan kalian", seru Umar.

Allah Ta'ala berfirman, "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS Al A'raf:96)

Tidakkah kita menginginkan keberkahan itu? Sudah seharusnya penguasa dan masyarakat negeri ini, kembali kepada Allah,  taat dan takwa kepada Allah ta’ala dengan menerapkan hukum-hukum Allah secara menyeluruh dalam bingkai khilafah. In syallah bencana akan bisa dicegah.

Wallahu a'lam bishoab.
 
Top