Penulis : Ainul Mizan
Pengajar di SDIT Insantama 
Merjosari Kota Malang

Apa yang didapatkan oleh mereka yang merayakan Tahun Baru 1 Januari? Inilah pertanyaan mendasar. Cobalah bertanya kepada diri sendiri dan jawablah dengan jujur. 

Pesta kembang api spektakuler, meniup terompet, konvoi jalanan, konser musik dan pemberian hadiah satu sama lain, menjadi hiasan setiap ceremonial malam 1 Januari. 

Tidak tanggung - tanggung bro, itu semua dilakukan semalam suntuk. Laki - laki perempuan, tua muda tumplek blek jadi satu. Tidak perlu jauh - jauh mengambil contoh di luar negeri. Fenomena malam 1 Januari bisa ditemui di kota - kota besar Indonesia. 


Mereka begadang, berhura - hura menghamburkan harta benda, berjoget bersama mengiringi dentuman musik di malam itu, campur baur laki - laki perempuan, setelah itu menjelang waktu Shubuh mereka baru tidur. Akhirnya mereka baru mulai tidur saat fajar hingga hampir seharian digunakan untuk tidur. 

Tentunya kewajiban Sholat Shubuh sudah melayang. Hari itu, 1 Januari menjadi hari pemakluman secara nasional. Suasana hari itu sepi. Semua sudah sama - sama mengetahui, hari itu adalah hari libur, hari untuk istirahat alias tidur, selepas berhura - hura semalaman. Besok harinya, tanggal 2 Januari, sudah mulai dengan setumpuk tugas dan pekerjaan. 

Sekali lagi, sebenarnya apa yang mereka dapatkan? Apakah dengan perayaan tahun baru, mereka menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya? Lebih baik dalam pengertian lebih berprestasi, lebih makmur ekonominya, lebih dekat dengan Allah Yang Maha Pencipta dan lebih baik perilakunya. Apakah makna lebih baik dalam konotasi demikian didapatkan? 

Bagi yang menjadi pelanggan setia dari momen tahunan ini bakal menjawab, kesenangan dan kepuasan ikut gebyar malam tahun baru. Sedangkan bagi yang belum pernah ikut sebelumnya, karena banyaknya bisikan, akhirnya ingin pula merasakan hingar bingarnya malam tahun baru. Sungguh, malam itu, suka tidak suka, mereka telah mengisinya dengan sesuatu yang justru bertentangan dengan harapannya untuk bisa menjadi lebih baik daripada tahun sebelumnya. 


Adapun bagi seorang muslim, ironisnya mereka sudah terjatuh dalam kemaksiatan di malam tersebut. Dari segi aqidah, tahun baru 1 Januari dalam mitologi Yunani - Romawi kuno adalah bentuk penghormatan kepada Dewa Janus. Sedangkan dalam mitologi Majusi, 1 Januari dijadikan sebagai Hari Raya Nairuz, hari raya untuk mengagungkan api sesembahannya. 

Belum lagi, dalam konvoi kendaraan di malam itu, mereka berboncengan dengan pacarnya, bahkan mereka bercampur baur berjingkrak jingkrak dan berpegangan tangan laki laki perempuan saat berpesta di malam itu. Belum lagi terbangnya kewajiban sholat shubuh. 

Hari ini, kaum muslimin digiring agar mengikuti kebiasaan dan jalan hidup orang - orang kafir. Tasyabbuh sebagai bentuk aktivitas untuk menyerupai orang kafir ini dilakukan secara bertahap. Betul, statusnya masih beragama Islam. Akan tetapi petgaulannya sudah ala Barat.

Cara berpakaiannya, berpikir dan berperilakunya, justru belum bahkan tidak mencerminkan akan statusnya sebagai muslim. 

Mestinya tahun baru itu digunakan sebagai ajang untuk muhasabah (mengoreksi) diri dan bangsa ini. Sadarilah, semakin bertambah hitungan tahun sejatinya semakin berkurang usia, yang sesungguhnya semakin berkurang jatah hidup di dunia ini. 

Apakah semakin waktu, kita ini banyak kebaikannya atau keburukannya. Semakin waktu apakah diri kita semakin dekat dengan agama ataukah justru jauh dari agama. Semakin bertambahnya waktu, apakah bangsa dan negeri ini dari proklamasi kemerdekaannya, mengalami keterbelakangan ataukah kemajuan. 

Apakah negeri ini semakin sadar dan mendekat kepada Allah dan melaksanakan aturanNya ataukah justru memunggunginya sehingga semakin menjerumuskan bangsa ini kepada cengkeraman penjajahan. Bukankah lafadz takbir yang digelorakan oleh Bung Tomo dalam mengusir penjajah, bisa menjadi bara yang membakar jiwa - jiwa anak - anak bangsa untuk membebaskan bangsanya dari setiap bentuk penjajahan gaya baru. Sebuah penjajahan di bidang politik, ekonomi, budaya dan sebagainya. 

Ya, mestinya momen tahun baru dipakai untuk muhasabah bukan untuk berhura - hura. Dengan demikian, harapan agar menjadi lebih baik di tahun yang baru, bukanlah bagaikan "Pungguk merindukan bulan".

 
Top