Oleh :Yuli UmmuRaihan

Innalillahi wainnailaihi rojiun lagi, dan lagi bencana melanda negri tercinta ini, belum kering air mata atas musibah gempa, dan likuifaksi di Palu dan sekitarnya, kembali kita dikejutkan atas musibah yang dibilang datang secara tiba-tiba.

Ahad 23/12/2018 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan,jumlah korban tewas tercatat 222 orang, 843 orang luka-luka dan 28 orang hilang, 556 unit rumah rusak, 9 unit hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, 350 perahu rusak akibat bencana tsunami di Padeglang Banten, dan  Lampung  Sabtu malam, 22 Desember 2018 kemarin.

Angka ini tentu akan terus bertambah mengingat belum semua wilayah tersentuh bantuan dan upaya evakuasi.

Bagi kita orang beriman bencana ini adalah qadha Allah yang wajib kita imani, terima dengan ikhlas, tidak bisa menolak, apalagi menyalahkan siapapun apalagi Allah swt.
Tak ada yang tau atau menduga bencana ini akan terjadi, sehingga kita tak bisa mempersiapkan apa-apa untuk menghindarinya.

Jika orang-orang yang menjadi korban tau akan kejadian ini tentu mereka akan segera menghindar, tidak mendekati pantai, dan bahkan BMKG pun bisa dibilang kecolongan sehingga tak ada peringatan dini. Semua adalah kuasa dan rahasia Allah swt.

Banyak yang menjadi korban jiwa dalam musibah ini tak terkecuali publik figur negri ini yang memang sedang mengisi acara sebuah gathering .
Sungguh kematian itu amat dekat, dan cepat tak bisa ditunda atau dipercepat meski sedetikpun. Semua sudah tercatat di lauh mahfuz.

Penyebab kematian, dimana, kapan, dan seperti apa itu kuasa Allah, kita tak akan dihisab atas semuanya. Tapi kita akan ditanyai bagaimana kita mempersiapkan kematian tersebut, dalam rangka ketaatan atau malah sedang bermaksiat, dan kita berprasangka baik saja untuk para korban semoga mereka semua husnul khotimah,  dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kita semua bisa mengambil hikmah dari musibah ini.

Semua kita pasti menginginkan husnul khotimah, tapi tak banyak yang mempersiapkan diri mendapatkannya.

Kematian itu suatu yang pasti, maka tidak perlu ditakuti, dimana pun kita berada kematian akan menghampiri meski berada dalam tempat paling aman sekalipun, kita tak bisa lari atau bersembunyi.
Mo tinggal digunung ada bahaya gunung meletus, dipesisir pantai ada ancaman tsunami, didaratan ada gempa, kebakaran, kecelakaan, banjir, angin puting beliung, wabah penyakit dan sebagainya, bahkan dalam kondisi aman dan nyaman kita bisa saja mati jika Allah sudah berhendak.

Kematian itu juga tak butuh alasan, betapa banyak keajaiban orang-orang yang selamat dari musibah meski secara logika sulit selamat, atau yang meninggal tiba-tiba tanpa sakit atau penyebab lainnya.

Maka yang kita harus maksimalkan adalah persiapan menjelang kematian. Dan cara menjemput kematian yang paling baik adalah menceburkan diri dalam dakwah, kebaikan, ketaatan dan amal sholeh.
Bagaimana ketaatan dan ketundukan kita pada aturan illahi baik secara individu, masyarakat maupun pada tingkat negara.

Bagaimana sebagai seorang muslim kita amar ma'ruf nahi mungkar, kontrol masyarakat, serta peran negara untuk hanya menerapkan hukum Islam secara kafffah.
Karna bisa jadi musibah demi musibah yang melanda negri adalah peringatan dari Allah atas kemaksiatan berjamaah kita .
Bertahun-tahun sejak daulah runtuh 1924 lalu kita tak lagi menerapkan aturannya kecuali hanya parsial dalam aktivitas ibadah semata.

Selama itu pula kita hidup dengan aturan manusia yang tentunya tidak memberi solusi paripurna.
Bagaimana kita mengatur ekonomi, mencari nafkah, mengatur pendidikan, kesehatan, keamanan dan yang lainnya.

Kita justru melanggengkan sistem kapitalis yang bukan dari Islam, Umat Islam hanya jadi pendorong mobil mogok, yang dirangkul dan didekati saat menjelang pemilu, ulama dikriminalisasi, dakwah dipersekusi, maksiat nyata dan terang-terangan dimana-mana.

Allah berfirman: " Jikalau sekiranya penduduk suatu negri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan limpahkan keberkahan dilangit dan dibumi. Tapi jika mereka mendustakan ayat-ayat kamu, maka akan kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka."(QS Al A'raf :96)

Maka ayat ini hendaknya jadi peringatan bagi kita bahwa musibah demi musibah ini adalah karna ulah kita sendiri baik langsung maupun tidak, mungkin sebagian kita tidak bermaksiat tapi lihatlah lingkungan kita, bahkan penguasa negri ini sudah jelas-jelas bermaksiat dengan tidak mau menerapkan hukum Allah, bahkan menantang perang dengan Allah dengan terus melakukan aktivitas ribawi.

Maka sudah saatnya kita semua taubatan nasuha, menyesali semua maksiat kita, dan bersama kembali meraih ridhoNya, dengan menerapkan seluruh aturannya dibawah bingkai daulah khilafah.
Atau belum cukup semua musibah ini,berapa banyak lagi musibah, korban jiwa dan kerugian hingga bisa membuka mata dan hati kita, agar tak lagi sombong dengan menolak syariatnya.

Wallahu a'lam bi ash shawab.
 
Top