Foto : Isna Yuli
Penulis : Mala Oktavia
(Pelajar SMAN 1 Bojonegoro)

ADA tokoh-tokoh hebat, dikenal orang, dan diapresiasi oleh dunia. Mereka melukis sejarah hidupnya, menggambarkan masa depan, melampaui angan-angan dan harapan. Membuat langkah penuh keyakinan bahwa ia adalah sang penakluk kesuksesan.

Muda, berprestasi, berkarisma, bertalenta, pun digandrungi sebab kesholihannya. Siapa yang tak mau demikian? Semua pemuda menginginkannya. Hanya saja, semua label itu tak didapat bagi mereka yang hanya duduk diam, melihat dari kejauhan sambil bermimpi. Akan tetapi, bagi mereka yang berusaha dan yakin, peluang kesuksesan pasti bisa digapai.

Bagi setiap pemuda yang suskes, selalu muncul pertanyaan, siapa yang membuat dia sukses? Apakah dirinya sendiri?Allah? Orang tua?Guru? Ataukah orang lain? Semua kesuksesan tak lepas dari campur tangan Allah. Namun, tentu kita harus tahu, siapa yang membantu kita menuju kesuksesan itu.

Muhammad al-Fatih misalnya, sang penakluk Konstantinopel. Benteng terkuat di dunia pada eranya, mampu ia taklukkan di usia 21 tahun.Ketika Muhammad al-Fatihtumbuh, menjadi anak kecil yang nakal, oleh Sultan Murad II, ayahnya, diserahkan penuh pada guru yang paling cakap membentuk karakter,sholih, ahli dalam ilmu pengajaran, yaitu Syeikh Ahmad bin Ismail al-Qurani dan SyeikhAaqSyamsudin.

Sultan Murad II ketika bertemu dengan Syeikh Ahmad bin Ismail Al Qurani menitip pesan agar mendidik anaknya dengan baik, sekaligus memberikan kewenangan penuh untuk memukulnya jika Muhammad al-Fatihtidak patuh. Hal tersebut disampaikan di depan Muhammad al-Fatih sambil sang Khalifah menyerahkan sebuah cemeti (cambuk) kepada sang guru. Tentu saja, amanah orang tua yang sepenuh hati, tidak tanggung-tanggung kepada sang guru merupakan modal penting bagi guru manapun untuk mendidik muridnya. Apalagi sang guru tahu dan mengerti cara mendidik yang baik, menegur hingga memukul murid yang bersalah dengan pukulan yang sesuai aturan dan terukur.

Hingga lahirlah pemuda gagah yang mampu menghafal al-Quran di umur 8 tahun, menguasai 7 bahasa, ilmu politik, ekonomi, strategi perang, dan lainnya. Namun, dari pukulan Syeikh al-Qurani tidak pernah sedikitpun Muhammad al-Fatih membenci beliau, justru hal itu membuat ia semakin patuh dan tunduk pada gurunya.

Begitu pula pukulan yang pernah diberikan oleh Syeikh Aaq Syamsudin, tanpa sebab dan kesalahan apapun Muhammad al-Fatih dipukulnya hingga pukulan itu membekas di hati sang penakluk Konstantinopel. Dan kembali lagi, Muhammad al-Fatih tidak berani mempertanyakan pukulan gurunya itu. Meskipun pukulan itu terus mengusik ketenangannya.

Sampai akhirnya setelah Muhammad al-Fatih berhasil menaklukkan benteng dan menjadi SultanKhilafahUtsmani, ia memberanikan diri bertanya pada gurunya. Atas alasan apa Syeikh Aaq Syamsudin memukulnya, padahal Muhammad al-Fatih tidak melakukan kesalahan.

Dengan penuh kebijaksanaan SyeikhAaq Syamsudin menjawab, “Aku sudah lama menunggu datangnya hari ini. Di mana kamu bertanya tentang pukulan itu. Sekarang kamu tahu nak, bahwa pukulan kedzaliman itu membuatmu tak bisa melupakannya begitu saja. Ia terus mengganggumu. Maka ini pelajaran untukmu di hari ketika kamu menjadi pemimpin seperti sekarang. Jangan pernah sekalipun mendzalimi masyarakatmu. Karena mereka tak pernah bisa tidur dan tak pernah lupa pahitnya kedzaliman.”

Gambaran karakter jiwa muda yang patuh pada gurunya tercermin pula pada Shalahuddin al-Ayyubi. Sosok yang menjadi inspirasi sebagai pembebas Baitul Maqdis. Di balik kesuksesannya, berdiri penuh hormat seorang guru yang senantiasa memotivasinya, menjadi pembimbing sekaligus teladan.Beliau adalah Nuruddin Mahmud Zanki.Misi membebaskan Baitul Maqdis telah dimulai oleh Asy-Syahid Nuruddin Zanki,misi itu menjadi cambuk dan ghirah bagi Shalahuddin al-Ayyubiuntuk menunaikan cita-cita gurunya. Dan terbukti, Baitul Maqdis mampu ditaklukkan pemuda gagah nan sholih berkat pekikkan semangat dari gurunya.Dari kesemua cerita itu, guru mengambil bagian besar dalam kesuksesan seorang pemuda.

Masih ada pula sosok teladan yang lahir dari didikan guru hebat, di antaranya Imam Syafi'i, al-Qurtubi, al-Bukhari, dan berbagai genius lain yang lahir melalui didikan guru-guru tangguh dan berbakat.Tak sekali dua kali mereka menerima hukuman, tetapi hukuman itu tak pernah membuat mereka menuding gurunya tidak bermoral. Justru dari sanalah mereka lebih tawaduk dan mengakui kesalahannya.

Namun, di zaman sekarang sikap tawaduk itu seperti telah hilang. Lenyap bagai debu yang terbawa badai. Tak menyisakan bekas aromanya sama sekali. Sebab sistem kebebasan telah mengubah pemuda milenial menjadi bringas dan merasa cerdas. Mereka tak mau diatur apalagi dihukum. Ditambah sistem sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan) yang menyempitkan arti kepatuhan sebagai pencitraan.

Sistem itulah yang berhasil mengerdilkan pola pikir dan pola perilaku pemuda saat ini, guru dianggap sebagai teman biasa yang bebas bersikap di depan mereka. Guru tak punya kedudukan di hatinya, guru hanya dianggap pemberi beban tugas sepanjang masa.

Di sisi lain guru tak lagi boleh keras dan tegas kepada anak didik, meski hanya sekadar sebuah ancaman. UU Perlindungan Anak ( UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak) pasal 80 dinyatakan: (1) Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah). Dampaknya pun bisa kita saksikan anak-anak sekolah di sekitar kita yang tak lagi patuh pada guru, menjadi manja dan sensitif hanya dengan sedikit teguran.

Padahal, dalam pandangan Islam sosok guru adalah sosokyang begitu dimuliakan, profesi guru tidaklah sama dengan profesi teknisi, dokter, pedagang, sopir, atau yang lainnya. Guru adalah pribadi yang paling tahu bagaimana cara mendidik, memoles generasi mudaagar memiliki mutu karakter yang berkualitas, dari tangannya akan lahir benih-benih penerus peradaban bangsa. Generasi yang tak hanya sekadar ecek-ecek, tetapi juga generasi yang sholih, cerdas, dan taat syariah.Oleh karena itu, guru begitu mulia di hadapan Islam.

Maka dari itu, keharusan bagi pemuda untuk muliakan mereka, perlulah pemuda bangkit menjadi jiwa yang berkarakter, berkepribadian Islami. Menjadi pemuda yang tawaduk kepada guru.Pemuda adalah lengan paling kuat untuk mendobrak pintu kegemilangan bangsa, apabila lengan itu keropos dengan hilangnya ketawadukkan, kegemilangan itu hanya tinggal cerita. Menjadi tumpukan angan-angan yang berkarat lalu akhirnya hancur.

Pemuda yang tawaduk pasti bisa dibentuk dan guru-guru yang berkualitas pasti bisa diciptakan.Semua itu bisa diwujudkan hanya apabila Islam benar-benar melekat kuat pada jiwa dan ragapemuda, guru, dan juga umat. Karena dari Islamlah, nilai-nilai ketawadukkan kepada guru begitu dihormati dan direalisasikan. Tidak hanya pemuda, umat pun akan memuliakan wibawa guru di mata dunia. Wallahu a'lam
 
Top