Kementerian Perindustrian terus memacu kompetensi sumber daya manusia (SDM) di sektor industri manufaktur sesuai implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. Peningkatan kualitas tenaga kerja ini untuk mendongkrak produktivitasnya melalui penguasaan teknologi terkini sehinggga menghasilkan produk dalam negeri yang inovatif dan kompetitif.

“Guna mendorong pertumbuhan industri, ada tiga hal yang utama, yaitu investasi, teknologi, dan SDM. Kalau investasi dan teknologi, itu bisa kita dapatkan atau beli. Sedangkan, SDM yang terampil harus kita siapkan terutama dalam menghadapi era digital saat ini,” kata Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar pada acara Wisuda Lulusan Politeknik STTT Bandung.

Sekjen menyebutkan, penggunaan teknologi industri 4.0 di antaranya berbasis pada artificial intelegent, internet of things, wearable (augmented reality atau virtual reality), advance robotic dan 3D printing. “Teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas agar industri nasional mempunyai daya saing di pasar domestik maupun global,” ujarnya.

Dalam rangka menciptakan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan dunia industri saat ini, Kemenperin telah meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri di beberapa wilayah di Indonesia. “Hingga sekarang, sebanyak 609 industri dan 1.753 SMK telah terlibat dalam program tersebut. Kegiatan ini akan kami terus digulirkan,” tutur Haris.

Dari program pendidikan vokasi itu, Kemenperin juga sudah melakukan penyelarasan sebanyak 35 program studi yang dibutuhkan industri saat ini untuk diterapkan pada kurikulum di SMK. “Kami meredesain kurikulum yang konvensional untuk diperbarui sesuai dengan industri 4.0. Program studi itu di antaranya ada teknik ototronik, audio video, dan robotik yang tengah dibutuhkan oleh sektor industri otomotif,” imbuhnya.

Sekjen optimistis, upaya-upaya tersebut dapat meningkatkan kinerja industri nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang pada triwulan III tahun 2018 mengalami lonjakan hingga 5,04 persen (y-on-y) terhadap triwulan III-2017. Peningkatan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri pakaian jadi yang mencapai 23,13 persen.

Di samping itu, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang di triwulan III-2018, juga naik 4,13 persen (q-to-q) terhadap triwulan II-2018. Industri yang mengalami kenaikan produksi tertinggi adalah industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer sebesar 15,11 persen.

Sedangkan, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulan III-2018 naik sebesar 3,88 persen (y-on-y) terhadap triwulan III-2017. Peningkatan tersebut terutama disebabkan naiknya produksi industri logam dasar, yang mencapai 18,64 persen. Sementara itu, sektor yang mengalami kenaikan pertumbuhan produksi tertinggi adalah industri pengolahan tembakau, hingga 32,36 persen.

“Kemenperin berkomitmen terus mengawal sektor industri manufaktur supaya konsisten berkontribusi tinggi terhadap perekonomian nasional. Salah satu langkahnya, pelaksanaan program up-skilling atau reskilling para tenaga kerja,” paparnya.

Haris menegaskan, seluruh SMK, Politeknik dan Akademi Komunitas di lingkungan Kemenperin, telah dilengkapi sarana workshop, laboratorium, teaching factory, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), dan Tempat Uji Kompetensi (TUK). “Jadi, para lulusan kami itu selain menjadapat ijazah, juga mendapatkan sertifikat kompetensi. Selain itu, pengembangan SMK dan Politeknik di Kemenperin ke depannya akan di arahkan menuju pendidikan dual system,” terangnya.

SDM Industri TPT

Pada kesempatan yang sama, Sekjen menyampaikan, pihaknya bertekad untuk senantiasa melakukan penguatan bidang pendidikan dan pelatihan di sektor industri, seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang masih membutuhkan banyak tenaga kerja terampil. “Industri TPT merupakan sektor padat karya dan berorientasi ekspor, yang menjadi salah satu prioritas dalam pengembangan,” ujarnya.

Apalagi, industri TPT menjadi satu dari lima sektor manufaktur yang ditetapkan sebagai pionir dalam kesiapan memasuki era revolusi industri keempat di Tanah Air sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0. Merujuk catatan Kemenperin, industri TPT di dalam negeri telah menyerap tenaga kerja sebanyak 3,58 juta orang atau 21,2 persen dari total tenaga kerja di sektor industri manufaktur saat ini.

Selanjutnya, industri TPT temasuk penghasil devisa negara yang signifikan melalui nilai ekspor sebesar US6,48 miliar pada triwulan II-2018. “Industri TPT memiliki peranan strategis, karena produk yang dihasilkan mulai dari bahan baku (seperti serat) sampai dengan barang konsumsi (pakaian jadi dan barang jadi), mempunyai keterkaitan baik antar industri maupun sektor ekonomi lainnya,” jelas Haris.

Oleh karena itu, guna semakin menggenjot daya saing industri TPT nasional di kancah global, Politeknik STTT Bandung sebaai salah satu unit pendidikan yang dimiliki Kemenperin selalu fokus untuk mencetak SDM terampil sesuai kebutuhan industri TPT yang dapat mengikuti perkembangan teknologi terkini.

Tahun ini, STTT Bandung mewisuda 369 lulusannya. Mereka terdiri dari 286 orang lulusan Program Diploma IV atau Sarjana Terapan serta 83 orang lulusan Program Diploma I hasil kerja sama dengan Asosiasi dan perusahaan industri tekstil. “Sebanyak 70 persen lulusan sudah terserap kerja di industri, sebelum waktu tiga bulan wisuda. Kami berharap, dalam waktu 3-6 bulan ke depan, seluruh lulusanya sudah bekerja atau melanjutkan program pendidikan tingkat yang tinggi,” papar Haris.

Bahkan, seiring dengan banyaknya perusahaan TPT yang melakukan relokasi ke Jawa Tengah terutama di wilayah Solo dan sekitarnya, Kemenperin telah mendirikan Akademi Komunitas Industri TPT Program Diploma 2 di Solo untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja tersebut.

Sedangkan, untuk memenuhi tenaga kerja industri TPT tingkat operator, Kemenperin menyelenggarakan diklat sistem 3 in 1 (pelatihan, sertifikasi kompetensi dan penempatan kerja). Pada tahun 2017, program tersebut diikuti 7.764 peserta dan untuk tahun ini sudah menembus hingga 11.200 orang.

Direktur Politeknik STTT Bandung Tina Martina menjelaskan, tahun ini pihaknya mencetak 68 lulusan atau 18,42 persen yang berpredikat ”Dengan Pujian”. “Selain itu, pada tahun ini, kami menerima calon pendaftar mahasiswa baru hingga 3.000 orang, sementara yang bisa kami terima hanya 307 orang. Ini menunjukkan bahwa kampus Politeknik STTT memiliki nilai kompetitif yang baik,” tegasnya.

Di samping itu, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja tingkat ahli yang mampu melakukan riset dan pengembangan teknologi serta diversifikasi produk tekstil menuju advance textile, mulai tahun ini telah dibuka program studi S2 Rekayasa Tekstil dan Apparel. “Saat ini, gedung Magister Terapan Teknologi Tekstil telah dibangun dan akan dilengkapi dengan peralatan sesuai standar industri,” imbuhnya.

Politeknik STTT Bandung juga menyelenggarakan program D1 dan D2 bidang tekstil dan garmen kelas jarak jauh, dengan menggendeng asosiasi dan perusahaan industri tekstil. Lulusannya langsung ditempatkan bekerja di industri TPT baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur. “Upaya-upaya yang dilakukan ini karena Politeknik STTT Bandung hanya mampu meluluskan 300 orang dari program diploma IV, sedangkan permintaan di industri setiap tahunnya mencapai 500 orang,” ungkap Haris.
 
Top