N3 Payakumbuh - Himpunan Mahasiswa Teknik Komputer (Himakom) Sekolah Tinggi Teknologi Payakumbuh (STTP) menggelar Sosialisasi Penyakit Masyarakat, Narkoba, HIV/AIDS kepada 50 pelajar dan mahasiswa di aula perpustakaan dan lab. komputer kampus, sabtu (24/11).

Hadir langsung dalam kegiatan ini sebagai Narsumber Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Payakumbuh AKBP Firdaus ZN, S.Pd, M.Si, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Payakumbuh Fahman Rizal, Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Dr. Hj. Henny Riza Falepi dan pemateri Surau TV Ustadz Faisal Abdurrahman Lc.MA.

Ketua STTP Astuti Masdar ST. MT didampingi Wakil Ketua 1 Dr.noviarti, dan Ketua Prodi Teknik kmputer Lilik Suheri M.kom tampak mendampingi kegiatan Himakom ini.

Kepala BNN Kota Payakumbuh Firdaus dalam materinya yang bertemakan “Dampak Penyalahgunaan Narkoba” tak henti-hentinya berpesan kepada pelajar dan mahasiswa untuk selalu tetap waspada, berfikir positif dan ikut aktif dalam melawan bahaya narkoba yang setiap detik mengancam, karena mereka adalah generasi penerus NKRI di masa yang akan datang.

“Kepada peserta agar ikut serta sebagai perpanjangan tangan (Penggiat) BNN dalam P4GN, karena kita tahu serangan dari proxy war tak akan berhenti dengan sendirinya dan kita harus selalu tegap berdiri di garda terdepan untuk melindungi generasi muda kita,” tutur Firdaus.

Sementara itu Sekretaris KPA Kota Payakumbuh Fahman Rizal memaparkan kepada peserta yang hadir terhitung sejak Januari 2017 hingga Desember  2017 sudah ditemukan sebanyak 15 kasus HIV/AIDS di Kota Payakumbuh, sementara itu dari tahun 2004 hingga 2018 secara kumulatif sudah ada 82 orang positif HIV di Kota Payakumbuh, dan hampir 50% dari itu adalah pelaku LGBT.

“Dan diantara 82 orang tersebut, ada 55 orang yang umurnya masih dalam masa produktif, yaitunya 20-35 tahun, artinya angka pengidap HIV di Kota Payakumbuh tertinggi ada pada generasi muda” ujar lelaki yang dikenal dengan panggilan Pak Man ini.

Ketua Himakom Nauval Akhyar mengatakan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Deklarasi Anti Pekat 5 November 2018, masih maraknya penggunaan narkoba dan pelaku pekat, banyaknya kasus mahasiswa dan pelajar yang ada di Indonesia.

“Kami merasa kalau Himakom tak hanya membahas komputer melulu, tapi kami juga ingin ke sosial, makanya kami undang semua narasumber kompeten untuk peserta sosialisasi, outputnya ini adalah bahan materi dalam transfer knowledge peserta kepada teman-temannya,” ujar Naufal. (rel)
 
Top