Pemerintah semakin fokus untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) termasuk di sektor industri, setelah gencar membangun banyak infrastruktur di berbagai daerah. Hingga saat ini, jumlah tenaga kerja manufaktur lebih dari 17 juta orang atau berkontribusi 14,05 persen terhadap seluruh pekerja di ranah ekonomi.


“Dua tahun terakhir ini, kami telah memperkenalkan kembali pendidikan vokasi yang sebelumnya dianggap tidak setara dengan SMA,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika menjadi Keynote Speaker pada acara “Indonesia Forum 2018: Evolving Political, Economic and Business Environment Going into 2019” di Singapura, Jumat (21/9).


Kegiatan tersebut diselenggarakan Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) yang bekerjasama dengan University of Michigan. Peserta yang hadir sebanyak 150 orang dari berbagai kalangan seperti akademisi, investor dan pelaku usaha asal Singapura.


Menperin menjelaskan, salah satu upaya untuk mendongkrak kompetensi SDM industri, pihaknya telah meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara industri dengan SMK. “Jadi, melalui program itu, lulusan SMK bisa langsung kerja sesuai kebutuhan era sekarang,” ujarnya.


Pelaksanaan pendidikan vokasi tersebut sudah menjangkau Pulau Jawa sampai Sumatera, dan akan dilanjutkan ke wilayah lainnya di seluruh Indonesia. Dari program ini, Kementerian Perindustrian mampu melibatkan sebanyak 618 perusahaan dengan menggandeng hingga 1.735 SMK.


Airlangga menyampaikan, seiring bergulirnya revolusi industri 4.0, pihaknya juga menjalin kolaborasi dengan Swiss guna menggelar program bertajuk Skill for Competitiveness (S4C), sebagai upaya pengembangan mutu politeknik di lingkungan Kemenperin.


“Tujuannya untuk meng-upgrade skill para mahasiswa agar siap menghadapi era digital. Misalnya melalui pendidikan koding atau artificial intelligence,” tuturnya. Menperin meyakini, SDM terampil menjadi kunci penerapan industri 4.0, apalagi Indonesia sedang menikmati bonus demografi hingga 10 tahun ke depan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.


“Kalau seluruh tenaga kerja di sektor industri sudah melek teknologi, ekonomi Indonesia berpotensi meningkat 1-2 persen, sehingga target pertumbuhan bisa mencapai 7 persen pada tahun 2030 dengan didorong oleh implementasi industri 4.0,” paparnya.


Bahkan, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, aspirasi besar yang akan diwujudkan adalah Indonesia masuk dalam jajaran negara 10 ekonomi terbesar di dunia tahun 2030. Ini yang juga akan menciptakan pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif.


Airlangga menambahkan, partisipasi dan produktivitas tenaga kerja industri mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian, diperlukan penguasaan teknologi digital guna menghasilkan inovasi sehingga bisa berdaya saing tinggi.


“Saat ini, di Indonesia, partisipasi tenaga kerja berada di tingkat 70 persen, kemudian tingkat pengangguran berada di level terendah sepanjang masa, yaitu sekitar 5,13 persen. Selain itu, angka kemiskinan berada pada 9,8 persen, terendah dalam dua dekade terakhir,” imbuhnya.


Ekonomi Indonesia kuat


Dalam paparannya, Menperin pun meyakinkan kepada investor dan pelaku usaha Singapura yang hadir untuk meningkatkan investasinya di Indonesia. “Sejumlah indikator mengindikasikan bahwa perekonomian Indonesia sangat kuat, dengan rata-rata pertumbuhan 5,17 persen,” ungkapnya.


Di tengah perkembangan ekonomi digital, saat ini Indonesia sudah mempunyai empat perusahaan rintisan digital (startup) yang disebut unicorn atau memiliki kapitaisasi pasar di atas USD1 miliar. “Mereka memanfaatkan potensi generasi milenial. Contohnya adalah Zaky, pendiri Bukalapak, yang saat ini punya 4 juta vendor dan 20 juta pengunjung situs,” terangnya.


Pemerintah menargetkan dapat menciptakan sebanyak 1.000 technopreneurs dengan valuasi bisnis USD10 miliar dan nilai e-commerce mencapai USD130 miliar pada tahun 2020. Sedangkan, pada tahun 2025, nilai e-commerce di Indonesia diproyeksi menjadi USD150 miliar.


Potensi tersebut dinilai dapat menumbuhkan industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri. Oleh karena itu, pemerintah telah memberikan kebijakan fiskal untuk IKM, seperti PPh final 0,5 persen. “Kami akan terus memudahkan IKM agar bisa berkembang menjadi the next generation of business people,” kata Airlangga.


Menperin meyakini, revolusi industri 4.0 membuka banyak peluang pekerjaan yang baru, terutama yang bergerak di bidang digital. “Jadi, kita bisa membentuk ekonomi baru menjadi sebuah ekosistem inovasi,” jelasnya.


Contohnya adalah inkubasi para startup yang dilakukan oleh Apple Developer Academy di Tangerang. Selain itu, Apple berkomitmen untuk membuka innovation centre serupa di Surabaya dan Batam. Mereka akan meluluskan sebanyak 400 orang dalam program satu tahun.


Turut hadir mendampingi Menperin, Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII), I Gusti Putu Suryawirawan dan Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Ngurah Swajaya.


Ngurah menyampaikan, saat ini investor Singapura masih memprioritaskan Indonesia sebagai tujuan investasi utama. “Situasi politik yang relatif stabil, dan proses demokrasi yang kuat diharapkan tidak akan mengurangi minat investor untuk terus menanamkan modalnya di Indonesia,” ungkapnya.


Selain itu, Ngurah juga menekankan, pemimpin kedua negara telah berkomitmen untuk terus meningkatkan kerja sama yang saling menguntungkan dengan hasil konkret yang dapat dirasakan oleh masyarakat kedua negara. Misalnya, pengembangan di sektor industri manufaktur. Sheli
 
Top