N3, Padang - Sudah tiga tahun, sejak 2016 Gustina Putri Ningsih, 18 tahun menderita sakit parah.

"Bermula dari sakit perut biasa. Kemudian siswa SMA Pertiwi 1 kelas dua itu dilarikan ke Rumah Sakit  Umum Daerah (RSUD) Kota Padang untuk di rawat," kenang Kartina, 45 tahun ibu kandung Gustina kepada wartawan Rabu, 18 Juli di kediamannya.

Kartima menjelaskan, Baznas Padang sangat peduli terhadap nasib anaknya yang masih terkapar di rumah.

"Sudah taga kali Baznas Padang menyalurkan bantuan berupa dana zakat," ulas Kartina ibu dari dua putri itu.

Bantuan pertama, disalurkan  Baznas Padang setahun lalu disaat Gustina dirawat di Rumah Sakit Yos Sudarso. Bantuan diberikan sebesar  Rp.4 
 juta. 

Lalu bantuan kedua Rp.4,5 juta ditambah sembako. Baznas Padang kembali menyalurkan bantuan ketiga  pada  Gustina, Rabu, 18 Juli 2018 sebesar Rp.4,5 juta.

"Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Baznas Kota Padang. Bantuan ini sangat berarti bagi kami," sebut Kartina terlihat sambil menyapu air matanya. 

Sementara itu, Wakil Ketua Baznas Kota Padang, Bidang Pendistribusian, Nursalim menjelaskan, Baznas Padang memiliki kewajiban menyalurkan harta zakat kepada para asnaf delapan.

Diantara para asnaf delapan tersebut, fakir, miskin, gharimin, ibnu sabil, fisabilillah dan mu'allah.

"Baznas Padang sangat bersedih dan  prihatin dan berdoa pada Allah Ta'ala agar diangkat penyakit adik kita Gustina. Gustina hanya bisa berbering ditempat tidur," kata Nursalim didampingi Kabid Pendistribusiaan, Industriyadi usai menyalurkan zakat.

MENYEDIHKAN HATI

Dari berbagai informasi yang dihimpun, Gustina yang beralamat di Kayu Kalek Perumahan Asabri RT : 04/RW : 02  Nomor : 17,  Kec. Koto Tangah, Padang, sebelum sakit termasuk anak ceria. Mudah bergaul dengan teman teman seusianya.

 Diceritakan, Gustina semula merasa sakit perut biasa. Namun sangat sakit sekali. Luar hiasa. Akhirnya Kartina membawa Gustina dirawat ke  RSUD Padang.

Di RSUD Padang  Gustina ditangani dokter dan paramedis. Namun setelah selesai operasi Gustina kejang kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya. "Seperti orang minum racun," ungkap Kartina.

Setelah dirawat dua hari di RSUD Padang, 'dalam kondisi kurang baik', Gustina dipindahkan untuk dirawat lanjutan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUPl M.DJamil Padang. 

Selama empat bulan dirawat di RSUP M.DJamil Padang di ruang ICU, tutur Kartina, kondisi anaknya tidak memperlihatkan tanda baik.

 Akhirnya  dokter RSUP M.DJamil menyuruh Gustina  untuk dirawat di rumah saja.

Maka pihak RSUD Padang datang menjeput Gustina ke RSUP M.DJamil Padang dan mereka mengantar Gustina ke rumahnya di Perumahan Asabri.

Nah sejak saat itu hingga      sekarang Gustina hanya bisa berbaring ditempat tidur. 

Ibunya Kartinalah yang setiap hari mengurusnya dengan penuh kasih sayang. Walau hati Kartina luka tersayat sayat bila memandang wajah anak kandungnya.

Tidak jarang setiap hari Kartina meneteskan air mata ketika  membersihkan air liur Gustina. Dia tatap wajah anaknya, air matanya pun langsung keluar.

"Gustina sebenarnya tidak tahu dengan orang yang datang membesuknya," sebut Kartina.

Sebagai seorang ibu, tentu Kartina sangat sedih. Disaat anak gadis seusia Gustina sibuk beraktifitas, namun alangkah sedihnya anaknya justeru hanya bisa berbaring. 

Gustina masih bernafas, tapi tidak bisa diajak komunikasi lagi. Sekuat apa pun kita bicara dipastikan Gustina tidak ada respon. Kecuali, sebentar sebentar air liurnya keluar dari mulut seperti busa.

Setiap orang yang datang membesuk Gustina pastilah tidak kuat meneteskan air mata. Terutama mereka yang telah memiliki anak gadis seusia Gustina.

"Ya Allah angkatlah penyakit Gustina. Bila penyakit yang diderita Gustina ada kaitan dengan dosa ayah serta ibunya, mohon Ya Allah ampuni kedua orang tua Gustina. Sembuhkanlah Gustina. Amin Ya Allah,".*** AWKAR.

Tempat tidur dan alat yang dihubungkan ke tubuh Gustina dibefikan oleh RSUD Padang.

Dilihat lebih dekat kondisi kehidupan keluarga Kartika sangat sulit.

Rumah sederhana yang sering kebanjiran itu dikontrak Kartina bersama suaminya yang berprifesi sebagai nelayan.

"Rumah yang kami tempati ini sewanya satu tahun satu juta. Itu pun sudah tiga tahun belum bisa kami bayar," kata Kartina.  AWKAR
 
Top