N3, Timika ~ Pembakaran fasilitas umum kembali terjadi di kampung Waa Banti Distrik Tembagapura, Kab. Mimika, beberapa waktu lalu mengakibatkan kerusakan yang menghanguskan  klinik/rumah sakit, kantor distrik lama, perumahan guru, gedung sekolahan SD dan SLTP , serta alat berat buldozer milik PT. Freeport termasuk rumah kepala Suku Zima Timo Omaleng orang tua dari Bupati Eltinus Omaleng.

Menurut  informasi dari masyarakat  Waa Banti  yang tidak mau disebut namanya demi keamanan,  mengatakan bahwa kelompok TPN OPM mendengar informasi yang disampaikan oleh salah seorang tokoh orang asli Papua (OAP) dari Timika  tentang rencana rapat negosiasi terkait himbauan Pemerintah Daerah untuk meletakkan senjata.

Dalam rencana rapat negosiasi tersebut  akan dilakukan pemanggilan terhadap kelompok Kali Kopi oleh dua kelompok TPN/OPM lainnya yakni kelompok Kali Kabur dan kelompok Ilaga agar duduk bersama dan membicarakan himbauan Pemerintah kepada seluruh TPN/OPM disekitar Tembagapura supaya meletakkan senjata.

“Namun dalam kesempatan rapat tertutup yang dilakukan oleh ketiga pok TPN/OPM tersebut, kelompok Kali Kopi bersikeras tidak mau bernegosiasi apapun atas himbauan Pemerintah Daerah supaya meletakkan senjata bahkan mereka menyatakan akan terus berperang sampai merdeka,”katanya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa TPN OPM Kali Kopi menolak himbauan Pemda untuk meletakkan senjata dan meninggalkan Banti, juga menolak kompensasi apapun dari Pemerintah selain opsi merdeka dan kemudian melakukan pembakaran fasum di Banti sbg bentuk penolakan atas segala macam lambang NKRI dan penolakan terhadap keberadaan PT Freeport.

“Selain menolak himbauan Pemda kelompok TPN OPM Kali Kopi juga mendatangi Pendeta Hengki Magal yang ikut dalam pertemuan dengan Pemda dan Aparat Keamanan di Timika terkait pembahasan tentang penyelesaian konflik di Tembagapura,”katanya.

TPN OPM Kali Kopi menyampaikan kepada Pendeta Hengki Magal bahwa dirinya tidak akan dibunuh, namun akan di siksa agar menderita karena Pendeta Hengki Magal dianggap sudah menjadi bagian dari NKRI dan bertentangan dengan tujuan perjuangan TPN OPM Kali Kopi yaitu Papua merdeka.

“Insiden pembakaran rumah orangtua Bupati Eltinus Omaleng, bertujuan untuk menunjukkan bahwa TPN OPM Kali Kopi tidak mengakui kepemimpinan Bupati Eltinus Omaleng serta menyatakan diri bahwa kelompok tersebut bukan warga dan menolak NKRI,”kata warga yang tidak mau disebut namanya dengan alasan keamanan.

Sampai saat ini wilayah Waa Banti dan sekitarnya masih dikuasai kelompok TPN/OPM Kali Kabur sedangkan warga masih melakukan aktifitas rutin seperti biasa, namun saat ini warga terus mendapatkan pengawasan sehingga merasa sangat tertekan dibawah ancaman kelompok TPN/OPM.

“Bahkan kelompok TPN OPM Kali Kopi saat ini sudah membuat pos tinjau disekitar Kampung Longsoran, Kampung Opitawak dan Kampung Katabra mereka mendirikan pos jaga untuk mengawasi warga yang keluar masuk Desa Waa Banti. (wawan)
 
Top