Memberamo Raya. ..... September 2017. Medan yang berat dan terisolasi bukan halangan komunitas yang bernama My Dream Indonesia untuk menjangkau anak-anak wajib belajar yang tersebar di 9 distrik di Kabupaten Memberamo Raya - Papua. Kondisi kemahalan dan terisolasi menjadikan anak-anak sekolah belajar dengan memprihatinkan. Usia wajib belajar yang terlambat, gedung sekolah yang tidak layak, sarana belajar yang minus dan tenaga pengajar yang sangat terbatas. 

Tragisnya siswa sekolah yang hanya bertemu dengan gurunya saat ujian dan menciptakan lulusan SD tidak lancar membaca dan menulis.

Respon cepat My Dream Indonesia yang menggalang dana dari berbagai profesi berhasil memberikan bantuan berupa  buku tulis, alat edukasi, seragam sekolah, alat olah raga, pakaian baru dan layak pakai, meja belajar, kitab suci dan buku rohani, obat-obatan dan vitamin serta susu untuk asupan gizi anak-anak sekolah. Tim Relawan Memberamo Raya juga menyumbang Mie Instan, biskuit dan bubur kacang hijau untuk tambahan asupan gizi sehingga baksos benar-benar bermanfaat.

Keceriaan luar biasa anak-anak sekolah menerima langsung bantuan My Dream Indonesia di komplek-komplek kampung dan distrik pedalaman seperti Distrik Memberamo Tengah, Rofaer, Kustra, Tengah Timur dan Benuki.

Ucapan syukur dan terima kasih disampaikan oleh Bapak Paulus Ekia Guru Honorer di Kampung Fona Distrik Rofaer, Benny Aswa Sekretaris Kampung Noyadi Distrik Kustra, Mesakh Ale relawan buta huruf dan Filemon Dima tokoh dari Suku Bauzi Kampung Noyadi Distrik Kustra, Dina Yoku pengasuh Anak Sekolah Minggu Gereja GKI Petra Kampung Anggreso Distrik Memberamo Tengah yang menyelenggarakan program baca tulis untuk pemberantasan buta akasara.

My Dream Indonesia juga menyalurkan bantuannya untuk memberikan susu kepada ibu-ibu hamil, balita dan baju layak pakai di komplek-komplek distrik yang berada disekitar Distrik Memberamo Tengah sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Memberamo Raya. 

Kerja keras Tim pendistribusian bantuan My Dream Indonesia juga memiliki pengalaman luar biasa, bukan hanya faktor kemahalan BBM dan biaya transportasi tetapi kelangkaan BBM dipengaruhi oleh kapal yang terlambat datang. 

Sementara itu Barnabas Tawam Kepala Suku Kawera Pioneri Kosonaweja Disrik Memberamo Tengah mengatakan; " Terima kasih anak-anak Tuhan yang baik, yang membantu anak cucu saya bantuan alat sekolah, seragam, baju dan susu. Biar anak-anak ini bisa belajar dan menulis dengan baik. Masyarakat ikut senang. Terima kasih My Dream Indonesia, Tuhan memberkati. Hormat buat semua relawan."

Pendistribusian bantuan dari My Dream Indonesia ditangani oleh Tim Relawan Memberamo Tengah yang terdiri dari berbagai kalangan seperti Barnabas Tawam Kepala Suku Kawera, Dila Tawam tokoh perempuan Memberamo R
aya, Aldo Doromi tokoh Pemuda Distrik Memberamo Tengah,  Apolos Mobilala Pegawai Bank Papua dan Dina Yoku dari GKI Petra Anggreso, Ken Laras jurnalis PPWI.
 
Top