N3, Tarakan ~ Tarakan sebagai gerbang masuknya pendatang dari mancanegara dan Asia Tenggara menjadikan kota Tarakan satu kota yang berhadapan di perbatasan, faktor akan kemudahan masuknya pemahaman budaya asing dan budaya idiologi yang berbeda dengan azas Bangsa indonesa dan budayanya menjadikan Masyarakat Tarakan bisa memproteksi diri.

Menurut A Siregar Pakar Terorisme dalam acara sesi Forum Koordinasi Penanggulan Nasional Teroris di Hotel Monaco Tarakan Kalimantan Utara menjelaskan kepada wartawan bahwa Tarakan merupakan salah satu jalur yang sedang diwaspadai oleh pemerintah.

Pasalnya tarakan sembat dijadikan transit dan perjalanan dr Azari diindikasi melatis dan merekrut terorisme, sedangkan saat ini yang paling mengkhawatirkan tentang isis yg sudah hancur di suriah sedang membuka markas baru di Filipina selatan yang berbatasan langsung dengan Kaltara dan tarakan sebagai gerbang transit.

" Tarakan sempat dijadikan Transit dr Azari dalam upaya perekrutan serta pelatihan terorisme, setelah isis porak poranda di suriah, skarang isis membangun kekuatan baru di Filipina selatan sehingga perlu diwaspadai antara masyarakat pemerintah dan aparat kepolisian dan TNI dalam memberantas Terorisme" Ujar Siregar

Penanggulan Terorisme selain dilakukan dengan kearifan budaya lokal, serta juga dengan memberikan pemahaman bangsa indonesia kepada selulyrh elemen masyarakat, karena dengan pemahaman mawacita bangsa indonesia yang memiliki 4 pilar kebangsaan.

Wakil Walikota Tarakan Arif Hidayat mengatakan pemerintah kota Tarakan dalan penanggulan terorisme di Kalimantan Utara selain dengan penataran P4 oleh disekolah atau Kampus dilakukan penataran kebangsaan kepada masyatakat dan ormas. Terang Arief

" kami melakukan penataran mas, ke sekolah dengan P 4, melakukan penataran kebangsaan kepada masyarakat dan ormas yang ada di Tarakan,  agar mereka paham akan bahaya terorisme,  selain dengan penataran kearifan budaya lokal merupakan cara efektif untuk menolak budaya timur tengah yang dinilai tidak cocok dengan budaya lokal kita" jelas Arif

Melawan terorisme menurut arif tidak harus dengan senjata, akan tetapi pemahaman radikalisme harus dilawan dengan pemahaman kebangsaan Indonesia dan budaya lokal kita, memberikan lapangan kerja, pada prinsipnya radikalisme dilawan dengan pemahaman kebersamaan didalam berkehidupan di negara Indonesia.

Kita pernah kesusupan Gafatar pada tahun 2013 hingga 2015, dengan kejadian tersebut pemerintah selalu mewaspadai gerakan sejenisnya, kita sering melakukan  imbauan kepada masyarakat agar tidak mau ikut ke dalam jaringan terorisme, semua imbauan itu berlaku pada semua agama, dan masyarakat agar tidak sungkang untuk memberitahu kepada aparat keamanan, aparat hukum dan forum kerukunan umat beragama di Tarakan, terlibih tadi adanya informasi ada orang Tarakan yang sempat direkrut oleh teroris dan orang tersebut tidak pernah di ketahui keberadaan nya.

Menurut Yosef Adi Prasetyo ketua dewan PERS menjelaskan bahwa peranan media juga dirasa sangat penting dalam meminimalisir terorisme, keberadaan terorisme bisa dilakukan dengan pemberitaan anti hoax, sehingga leranan masyarakat juga sangat diperlukan untuk tidak turut menyebarkan berita hoax terlebih dengan berita yang bersifat provokatif dan sara.

" peran masyarakat sangat di perlukan dalam menganrisipasi berita hoax, dengan diberikan pemahaman agar tidak langsung mempercayai berita hoax, serta menghindari membuat berita atau menyebarkan berita yang bersifat provokatif dan hoax" Tegas Yosep

Yosef berharap agar pers bisa melawan radikalisme di Indonesia dengan memberikan berita yang benar, tidak menyebarkan berita Hoax yang selama ini menjadikan penasaran kepada masyarakat Kaltara pada khususnya. Tutup Yosef. (Bonar Sahat)

Cuplikan Berita

 
Copyright © Nusantaranews All Right Reserved