N3, Padang ~ Indahnya waktu subuh di isi dengan kegiatan ajaran agama zikir dan doa hati akan terasa tenang dan nyaman serta pikiran positif, kreatif akan lahir sendirinya seperti air mengalir.

Disampaikan Walikota Padang H. Mahyeldu Ansharullah, SP. Dalam tausyiahnya di Masjid Raya Jabal Rahmah di komplek Semen Padang.

Walikota menyampaikan tausyiah menceritakan kisah tentang Nabi Isa dengan kaumnya di masa lalu.

Nabi Isa telah merasakan adanya tanda'- tanda kekupuran oleh umatnya, Nabi isa sendiri sering mendapat cercaan dan cacian dari orang-orang tak senang, berasal dari kaumnya sendiri.

Tanda-tanda kekupuran itu sudah ada seperti prilaku-prilaku anak manusia yang jauh dari norma-norma kehidupan, adat istiadat, maka itu saya ingin membuktikan, lakukan operasi bersama Satpol PP di jajaran pemko padang.

Di temui diantaranya di hotel-hotel nginap, sebagian warga kota padang. Mereka tinggal di padang dan nginap di hotel yg ada di kecamatan.

Beberapa hari lalu ada yg berpasang pasangan bukan mukrim dan tadi malam kita temui para pengusaha. Bahkan tempat itu sudah di segel pemiliknya bukan orang sembarangan.

Ada yg gunakan narkoba, minuman keras dan sebagainys, Inilah beberapa gambaran lingkaran kekupuran di kota Padang" ujar Walikota.

Bukan sekarang saja para ulama. Ulama sendiri mendapat perlakuan tak baik bahkan di diskriminalisasi masuk keranah hukum.

Saat ini orang telah berani dan tak segan-segan mengdiskriminalisasi para ulama. Ulama bukan tempat bertanya lagi. Bukan tempat mendapatkan pendidikan dan bukan tempat konsultasi dan sebagainya.

Kita tahu para pemimpin Sumbar atau pemerintahan di sumbar untuk ambil kebijaksanan dan keputusan selalu bertanya dan minta pendapat serta arahan dari para ulama,"lanjut Walikota.

Sedangkan Nabi isa melakukan konsuldasi merapatkan syaf. Kami yg bela ulama dan kami mecintai para ulama. Mari satukan barisan untuk umat agar tidak menjadi orang kupur

Kami satu padukan hati mereka, saat mencari persamaan di antara perbedaan. Tak akan mungkin kita sukses tanpa ada persatuan yang kokoh dalam satu tujuan.

Ratusan tahun lalu kita tak bisa berbuat karena tidak ada rasa persatuan, kesatuan dan saling mecintai negeri. Sehingga lama terbangun, sebabkan rasa dendam politik tak menentu dimasa itu.

Ratusan tahun di jajah bangsa lainnya. Dimasjidlah tempat merapatkan syaf mengokohkan rasa persatuan, atur strategi, membebaskan diri dari belenggu penjajahan dengan Persatuanlah kita dapat berbuat dan itu wajib kita lakukan.

Pesan - pesan para ulama, agar kita terjaga dan tersentak mempertahankan apa yang di miliki yaitu tegakkan persatuan dan kokohkam dalam satu itekat yang kuat mensejahterakan masyarakat. (tf/yz).

Cuplikan Berita

 
Copyright © Nusantaranews All Right Reserved