N3, Padang ~ Wow....diduga pemenang tender di Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah 2 tidak realistis. Kenapa tidak, lelang dikantor yang berlokasi di Jalan S. Parman Padang dibawah kepemimpinan Abdul Alif gila-gilaan. Pasalnya, dari data yang diperoleh ternyata pemenang tender, harus turun sampai 20 persen untuk mendapat pekerjaan.

Kalau dikalkulasikan secara umum, nilai proyek 100 persen dikurangi dengan penawaran 20 persen lalu dipotong lagi dengan PPn dan PPh 12 persen, belum ditambah dengan uang lainnya yang ditanggung rekanan, contoh uang pemuda dan tidak terduga lainnya. Nah menelisik hal tersebut, timbul pertanyaan ditengah masyarakat, berapa persenkah nilai anggaran yang tinggal untuk dipergunakan pada pekerjaan ??

Wajar saja, mutu dan kualitas pekerjaan diragukan, sebab penawaran nekat tersebut, diprediksi akan terjadi penyimpangan pekerjaan, terutama pekerjaan minor. Soalnya, anggaran pekerjaan bakal  disunat dan volume akan dimainkan. Apalagi, pekerjaan minor itu, akan disbukan kepada pihak ketiga, sehingga ketiga tangan yang ikut dalam pekerjaan proyek ini saling mencari keuntungan.
Penyimpangan dan pengurangan mutu serta kualitas pekerjaan bakal terjadi pada paket preservasi insfrastruktur jalan Padang-Solok dan Sawahlunto, senilai Rp41 Miliyar  dimenangkan PT. Nabil Surya Persada dengan penawaran  Rp32 Miliyar atau terjun 20 %.
Masalah lain, proyek milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Bina Marga  Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II, Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wiliayah II, Provinsi Sumatera Barat tersebut, rekanan yang dimenangkan PT. Nabil Surya Persada tak memiliki Aspal Mixing Plant (AMP) tapi hanya mendapat dukungan dari PT. Rimbo Peraduan.
Sementara rekanan yang dikalahkan rata rata mempunyai AMP  sendiri. Ada indikasi permainan antara Kepala Balai, Satuan Kerja, panitia dan PT. Nabil Surya Persada untuk mengkondisikan pekerjaan tersebut.
Tak pelak, adanya indikasi permainan lelang pada pekerjaan proyek tersebut, menuai hujatan dari kalangan media, LSM dan masyarakat. Soalnya, permainan lelang itu sangat kentara sekali, sebab bakal berujung pada mutu dan kualitas pekerjaan.
Seperti yang dikatakan Alwi, LSM Topan yang sangat mengikuti pekerjaan proyek di Satker 2 tersebut. Katanya, apa yang dilakukan Satker dan panitia sangat beresiko tinggi terhadap proses hukum. Soalnya, dengan terjun payung sampai 20 % itu, ada indikasi pekerjaan akan dimainkan, terutama pengurangan volume.
“Perpres menyebutkan, pemenang penawaran terendah yang responsive, bukan penawaran terendah semata. Sementara di Satker 2 ini, hanya berpedoman pada penawaran terendah saja. Dan, mereka tak memikirkan akibat pekerjaan rekanan yang terjun paying itu,” katanya seraya menyebutkan, biasanya masalah dalam proses lelang akan berimbas pada pekerjaan.
Diakui Alwi, tender di Satker 2 ini terbilang gila dan ini hanya salah satu lelang yang dimainkan. Masih banyak paket lain yang terindikasi dimainkan untuk memenangkan rekanan yang menjadi jagoan.”Kita akan pantau lelang bermasalah lewat pekerjaan dan akan mengawasi semua proyek yang menjadi tanggungjawab di Satker 2 ini,” imbuh Alwi.    
Alwi tak main main, proses lelang ini akan menjadi data awal untuk melanjutkan persoalan ini ke Kejaksaan Tinggi Sumbar.  Dan, setelah pekerjaan dimulai, akan dilengkapi poto poto pekerjaan proyek yang bermasalah itu.” Intinya, kita akan control sampai pekerjaan dimulai dan selesai. Ditemukan bermasalah, kita akan laporkan ke Kejaksaan Tinggi Sumbar,” katanya mengakhiri.    
Sementara, Satker 2 PJN 2 Abdul Alif saat dikonfirmasikan media ini, sedang tak berada ditempat. Menurut stafnya Abdul Alif belum bisa diganggu, sebab masih sibuk dengan pekerjaan. Lalu, bagaimana mutu dan kualitas pekerjaan proyek nantinya, apalagi lelang awal sudah bermasalah. Tunggu saja. NV/Herman

Cuplikan Berita

 
Copyright © Nusantaranews All Right Reserved