Nusantara ~ Rasanya tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya leyeh-leyeh makan sambil tiduran sembari menonton TV sehabis capek pulang kerja. Usut punya usut, kebiasaan makan sambil tiduran ini tak cuma dilakukan oleh generasi mager.

Makan sambil tiduran ternyata sudah lebih dulu dilakukan oleh kaum bangsawan Romawi Kuno sebagai tanda kekuasaan dan kemewahan. Mereka makan sambil berbaring saat pesta pora atau simposium politik, sementara dayang-dayang cantik melayani mereka. Kira-kira, para bangsawan ini tahu tidak ya, kalau makan sambil tiduran itu berbahaya untuk kesehatan?

Makan sambil tiduran bikin asam lambung naik
Makan sambil tiduran merupakan faktor risiko dari refluks asam lambung (GERD). Refluks asam lambung adalah kondisi gangguan pencernaan yang dapat menyebabkan rasa asam di mulut dan rasa terbakar di dada.

Di antara kerongkongan sampai lambung ada sebuah klep yang berfungsi sebagai pengatur lalu lintas pergerakan makanan, dan kerjanya dipengaruhi oleh gravitasi. Ketika Anda makan sambil tiduran, gaya gravitasi akan melonggarkan klep sehingga menyebabkan asam makanan yang sudah tercerna dalam perut mengalir balik ke dalam kerongkongan.

Asam lambung bisa mengikis lapisan dinding kerongkongan dan menyebabkan luka di kerongkongan, dan ini dapat bisa menyebabkan rasa sakit atau kesulitan saat menelan. Asam lambung yang bocor menuju kerongkongan juga bisa menyebar hingga ke saluran pernapasan dan juga organ THT (telinga, hidung, tenggorokan).

Selain itu, makan sambil tiduran bisa menyebabkan Anda batuk-batuk, bengek, cegukan dan/atau bahkan tersedak muntahan makanan dalam kerongkongan — yang risikonya bisa berakibat fatal.

Makan sambil tiduran bikin perut begah
Postur tubuh kita saat makan sangat memengaruhi seberapa baik kita mencerna makanan.
Biasanya tubuh mengatur proses ini dengan hati-hati. Saat Anda makan sambil duduk, perut bagian atas akan mengembang demi menyesuaikan diri dengan jumlah makanan yang ditelan. Setelah makanan sampai di lambung, katup otot lambung (pyloric sphincter) memulai tugasnya untuk mengendalikan aliran makanan.

Ini dimulai dengan hanya membiarkan sedikit sampel makanan yang molos ke dalam usus kecil, layaknya uji ombak. Setelah tes ini, tubuh dapat mengontrol seberapa cepat sisa makanan di lambung untuk mengalir ke usus.

Menurut Valeur, dokter residen senior di Rumah Sakit Diakonale Lovisenberg, kecepatan kerja sistem pencernaan akan tergantung pada isi perut. “Jika hanya air, tentu akan cepat dicerna. Tetapi jika terdiri dari banyak lemak, usus membutuhkan waktu yang lama untuk mencernanya,” dilansir dari Nordic Science.

Makan sambil tiduran memperlambat pergerakan makanan untuk menuju lambung setelah ditelan sehingga lama kelamaan menumpuk, yang pada akhirnya jadi memperlambat kerja sistem pencernaan. Stres yang diterima oleh sistem pencernaan ini membuat dinding perut kaku, yang meningkatkan tekanan pada perut bagian bawah.

Akibatnya, tekanan besar ini mendorong makanan hingga mendesak gerbang katup lambung, yang memungkinkan kebocoran lebih banyak jumlah “sampel makanan” yang seharusnya diterima usus. Ini, ungkap Valeur, dapat menyebabkan rasa begah yang tidak nyaman setelah makan.

Makan sambil tiduran termasuk kebiasaan makan yang buruk
Ketika Anda makan sambil tiduran, bukan hanya risiko begah atau tersedak yang harus Anda khawatirkan, namun juga berat badan Anda. Saat Anda makan sambil tiduran dan disibukkan oleh kegiatan lain, nonton TV misalnya, Anda tidak dapat mengukur seberapa banyak kalori yang Anda telan.

Ini menyebabkan Anda mungkin makan terlalu banyak melewati batas kenyang Anda tanpa disadari. Makan dalam porsi besar sekaligus adalah satu kebiasaan makan tidak sehat yang harus Anda hindari.
 
Top