Nusantara ~ Sejauh ini, suhu di Bumi terus meningkat. Sederhananya, hal ini disebabkan oleh beragam aktivitas manusia yang menyebabkan efek rumah kaca di atmosfer. Seiring terjadinya pemanasan global, kondisi es di Arktika (Kutub Utara) juga terkena dampaknya. Dibandingkan dengan 1979, terlihat ketebalan es yang semakin berkurang.

Dilansir dari Mobi Picker , musim dingin kali ini tercatat sangat hangat untuk wilayah Arktika, dengan suhu yang lebih dari 20 derajat Celsius lebih tinggi bila dibandingkan dengan suhu rata-rata pada bulan Januari. Menjadikannya pemanasan ekstrem ketiga di Arktika sejak November 2016.

Mark Serreze, seorang peneliti senior, dan rekan-rekannya di Snow and Ice Data Center, Colorado, menyampaikan laporan penelitian mereka.

Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa lapisan es Arktika pada Januari 2017 rata-rata di atas 13 juta km persegi, berkurang 259 ribu km persegi dari hasil pengamatan pada Januari 2016, dan berkurang 1,3 juta km persegi dari rata-rata untuk Januari secara umum, berdasarkan data yang dikumpulkan selama 38 tahun terakhir.

Temuan yang semakin mengkhawatirkan ini mendorong sekelompok ilmuwan untuk melontarkan solusi sederhana namun mengejutkan untuk menyelamatkan Kutub Utara. Caranya adalah dengan membuat es di sana lebih tebal.

Sebuah tim ilmuwan di Arizona State University telah mengusulkan pembangunan 10 juta pompa bertenaga angin untuk menyedot air dan menumpahkannya ke luar, ke permukaan es. Air yang keluar ini diharapkan akan membeku lebih cepat saat bersentuhan dengan permukaan es yang sudah ada.

"Satu-satunya strategi yang ada saat ini tampaknya hanya memberitahu orang-orang untuk menghentikan pembakaran bahan bakar fosil," kata pemimpin peneliti dan fisikawan Arizona State University, Steven Desch.

Ia beranggapan bahwa strategi tersebut bagus tapi akan membutuhkan lebih dari itu untuk mencegah semakin mencairnya es di Arktik.

Berdasarkan laporan yang telah diterbitkan, tim ilmuwan ini memiliki rencana untuk membekukan kembali es di kutub utara. Sepuluh juta pompa bertenaga angin tersebut dikatakan dapat menghasilkan lapisan es setebal 1 meter ke area yang ada saat ini.

Tim memprediksi bahwa dengan memompa 1,3 meter air di permukaan akan menghasilkan es yang lebih tebal 1 meter. Dengan kata lain, dibutuhkan 7,5 kg air per detik, atau 27 metrik ton air per jam.
Masih dari laporan tersebut, Samudra es Arktik saat ini memiliki rerata ketebalan hanya 1,5 meter.

Maka para ilmuwan itu beranggapan bahwa dengan menambahkan ketebalan 1 meter akan membawa perubahan yang signifikan. Penambahan 1 meter juga berarti memundurkan kondisi es ke masa 17 tahun yang lalu.

Namun semuanya sejauh ini masih berupa teori belaka. Hal ini karena dibutuhkan usaha yang rumit dan biaya yang mahal untuk prakteknya. Diperkirakan proyek ini akan menelan biaya hingga USD500 miliar (Rp6.666,67 triliun).

Luas wilayah Samudra Arktik sekitar 107 km persegi. Jika pompa bertenaga angin akan didistribusikan di 10 persen dari daerah tersebut, maka harus ada sekitar 10 juta pompa bertenaga angin. Sedangkan jika ingin didistribusikan di seluruh Arktik, sekitar 100 juta pompa yang akan dibutuhkan.

Satu turbin angin membutuhkan bilah dengan diameter panjang 6 meter, dengan berat 4.000 kg menggunakan material baja. Untuk tetap membuat pompa ini bertahan mengambang, dibutuhkan pelampung berisi berat yang kurang lebih sama dengan baja tersebut. Jika disederhanakan, diperkirakan sekitar 10.000 kg baja diperlukan untuk membuat satu pompa.

Untuk membangun 10 juta pompa, maka memerlukan pasokan sekitar 10 juta ton baja per tahun. Jika ingin mengaplikasikan pompa di seluruh Arktik, maka perlu 100 juta ton baja per tahun. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat saat ini memproduksi sekitar 80 juta ton baja per tahun, dan produksi dunia dari baja adalah 1.600 juta.

Keberadaan es di kutub penting karena seluruh ekosistem di Bumi bergantung pada Arktika. Keberadaannya yang putih dan terang saat terkena sinar matahari akan memantulkan panas dan membuat seluruh planet dingin.

Tanpa es tersebut, kutub akan menyerap dan menyimpan lebih banyak energi, meningkatkan suhu di tempat lain. Bahkan pencairan es akan menyebabkan lebih banyak gas dari efek rumah kaca yang terperangkap.

Belum lagi kemungkinan naiknya permukaan laut secara keseluruhan yang akan mengancam kehidupan makhluk hidup di dataran rendah.

Namun teori membekukan kembali es di Arktika ini hanya salah satu usaha yang hanya akan berhasil jika bersinergi dengan usaha lain.

"Penting untuk menunjukkan bahwa manajemen es merupakan bagian dari solusi es laut yang harus terintegrasi dengan banyak strategi mitigasi iklim lainnya termasuk mengurangi emisi CO2," ujar Ilmuwan Hilairy Hartnett dari Arizona State University kepada Gizmodo
 
Top