N3, Padang ~ Meski pekerjaan pada tahap 1 telah bermasalah, namun tak membuat PT. Lepen Kencana Utama, jera untuk  bermain pada pekerjaan tahap kedua ini. Buktinya, beberapa item pekerjaan proyek lanjutan menelan dana miliyaran rupiah, terkesan dimainkan. Padahal, pekerjaan proyek  yang berlokasi bredekatan dengan Wisata Pemandian ABG Lubuk Minturun ini, rekanan yang mengerjakan merupakan putra daerah Lubuk Minturun sendiri.
 
Pada tahap 1 tersebut, perusahaan asal Jawa yang pertama kali dibawa ke Sumbar oleh mantan Walikota Sawahlunto, Alm Amran Nur, dibawah komando Asbari Bujang. Namun, untuk tahap kedua dengan perusahaan yang sama yang bertanggungjawab membawa perusahaan tersebut, bukan lagi Asbari Bujang, tapi orang lain yang sampai sekarang tak tahu orang.
 
Bahkan, salah seorang pekerja yang sama ngopi dengan media ini di warung depan proyek tersebut mengaku tak tahu lagi siapa yang membawa perusahaan ini. Laki-laki yng bernama Andi Putra daerah sana yang juga bekerja pada tahap 1, hanya mengetahui tahap 1 dikerjakan Asbari Bujang, sementara yang kedua ini, ia tak tahu.”Saya tak tahu siapa yang membawa perusahaan ini pada pekerjaan tahap 2,” katanya.
 
Terlepas siapa yang membawa perusahaan rental tersebut, namun untuk pekerjaan tahap kedua ini, banyak ditemui penyimpangan. Bahkan diperkirakan pengurangan volume, sangat kentara terjadu pada pekerjaan proyek milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Cipta Karya ini.
 
Telusuran media ini, kelokasi pekerjaa, Minggu (12/11), ada beberapa item pekerjaan yang dimainkan dan terkesan dipaksakan. Mungkin, disebabkan pekerjaan terdesak waktu, rekanan terkesan memaksakan pekerjaan cepat selesai, sehingga mengabaikan mutu dan kualitas pekerjaan,
 
Dugaan penyimpangan proyek ini, terlihat pada pekerjaan pagar. Soalnya, ada indikasi untuk pekerjaan pagar ini, pembesian untuk slove  dan kolom utama, terkesan dimainkan. Khusus untuk pekerjaan slove pagar besi yang digunakan berdiameter 8 dan ini sangat rentan sekali, sebab pagar yang dibuat cukup tinggi, sementara pondasinya asal-asalan.
 
Digunakan besi berdiameter 8 pada pekerjaan pondasi pagar itu, terlihat didepan pintu masuk bangunan itu, sebab bagian ujung besi untuk pondasi itu, masih terlihat. Begitu juga untuk kolom pagar, masih berbungkus kayu dan belum dicor, terlihat besinya beragam. Ada menggunakan besi ulir bercampur besi biasa.
 
Wajah bopeng proyek tersebut, juga terlihat pada pasangan batu untuk pondasi pekerjaan pagar, terkesan asal asalan. Batu yang dipasangan bercampur tanah, sehingga diragukan daya perekatnya. Belum termasuk bangunan lain yang sedang dikerjakan, sebab pekerjaan terkesan ditutupi. Soalnya, didepan pintu masuk, tertulis tamu yang tak berkepentingan dilarang masuk.
 
Namun, secara visual bangunan lain, juga terlihat bermasalah, termasuk bangunan lantai dua, terlihat amburadul. Penyebab, bisa jadi, rekanan terkesan memacu pekerjaan untuk mengejar target, sehingga mutu dan kualitas dimainkan. 
 
Buruknya mutu dan kualitas pekerjaan proyek tersebut, juga menuai kecaman dari Bustanul LSM Pembela Merah Putih. Katanya, dari tahap 1, pekerjaan proyek ini sudah bermasalah, apalagi tahap 2. Ini disebabkan pekerjaan proyek ini, kurangnya pengawasan, sebab sesuai aturan sebelum item pekerjaan dilakukan, haruslah melalui persetujuan pengawas.” Ya, bisa jadi ada main mata antara pengawas dan rekanan PT. lepen Kencana Utama,” katanya.
 
Terlepas dari kurangnya pengawasan, kata Bustanul, ada indikasi kecurangan kontraktor memainkan volume pekerjaan yang berakibat merugikan keuangan Negara.” Pengurangan volume pada pekerjaan proyek ini, terindikasi korupsi. Makanya, ia minta aparat penegak hukum bisa mengusut tuntas kasus ini,” kata Bustanul.
 
Ia berjanji akan mengumpulkan data terhadap pekerjaan proyek ini, termasuk poto pendukung untuk segera dipersiapkan sebagai bahan pelaporan kepada Kejati Sumbar.” Kita akan laporkan kasus ini ke Kajati Sumbar,” janjinya seraya mengatakan, sekarang pihaknya sedang mengumpukan data dan poto pendukung.
 
Sementara PPTK pekerjaan proyek ini, Isriza beberapa kali dihubungi tak ada jawaban sama sekali. Begitu juga Satker, Indra Yuliraf, terkesan lepas tanggungjawab. Lalu, bagaimana kasus ini terjadi. Tunggu saja. NV
 
Top