Tinggal beberapa hari lagi tepatnya pada tanggal 29 November ini, anak Ku Kennia Syafina Amran akrab disapa (keken/ kennia) akan memperingati hari jadi yang 13 tahun.

Sore yang tenang dengan cuaca cerah, dihiasi langit kuning kemerah-merahan diufuk barat diterpa mentari senja yang sebentar lagi bergulir jatuh masuk keperaduannya.

Dari kejauhan terdengar suara adzan maghrib dari menara masjid yang jaraknya lebih kurang 100 meter dari rumah. Dari balik celah pepohonan rembulan malam mengintip seolah senyum manis menatap alam ini.

Bulan memancarkan cahayanya terasa sangat indah oleh anak itu yang tengah gelisah, sedang  menunggu deringan telepon dari suhengnya, apakah sebagai atlet Wushu ia jadi mengikuti pertandingan Porprov atau tidak.

“Duh, betapa indahnya malam ini." desis anak itu sendirian seperti orang yang sedang mengigau. Tatapannya kosong, menerawang jauh ke alam khayal yang tak bertepi.Tak seperti orang-orang yang berada di sekitarnya.

"Kennia,.....!” tiba-tiba terdengar suara mamanya memanggil dari arah kamar. Anak itu tersentak dari lamunannya membuyarkan segala khayalnya.

"Kesinilah anakku, hari sudah malam nanti kamu sakit kena angin malam." sekali lagi perempuan itu memanggil Kennia masuk ke dalam rumah.

"Ya, Ma." jawab Kennia sembari beranjak berdiri dari duduknya berjalan perlahan masuk ke rumahnya yang sangat sederhana. Malam itu Kennia tengah diliputi perasaan galau, mencari-cari kenapa hatinya di dalam tiba-tiba kalut, kepalanya pening matanya nanar kesana-kemari, sehingga PR yang diberikan oleh gurunya tadi siang di sekolah sedianya dikerjakan malam ini terpaksa ia tunda.

"Kennia, kulihat malam ini engkau tidak belajar anakku?" tanya perempuan itu kepada anaknya dengan suara datar memecah keheningan malam.

"Belajarlah dengan baik anakku, agar engkau kelak menjadi anak yang berbakti pada Nusa dan Bangsa.” kata perempuan itu dengan suara serak sambil mengumpulkan satu persatu mainan adik laki-laki Kennia, yang berserakan dilantai.

Kennia merupakan putri sulung dari dua bersaudara,  dan adiknya yang cukup bandel bernama Iqrar Permana Nusantara.

Keduanya merupakan curahan belaian kasih sayang dan tumpuan harapan kedua orang tua di masa mendatang. Orangtuanya sangat mengharapkan agar keduanya kelak nanti menjadi anak yang sholeh, taat pada orangtua dan berguna terhadap Nusa dan Bangsa.

Kennia tertunduk diam, lama tak menyahut, ia berpikir keberadaannya sebagai anak sulung merupakan cita-cita orang tuanya hidup dalam ekonomi pas-pasan di gubuk yang sederhana.

Tiba-tiba anak itu teringat akan ulang tahunnya pada bulan. November.

"Ma, besok ulang tahun Ken." anak itu setengah berteriak mengingatkan mamanya memecah keheningan malam.

"Oh, ya betul anakku." jawab perempuan itu, kemudian melanjutkan bicaranya.

"29 November tahun ini merupakan Ulang Tahunmu yang bertepatan usainya penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi.

Kami berharap, mudah-mudahan kamu selalu sehat selalu, dan diberkahi Allah disetiap langkah yang Kamu lalui.

Kebetulan kan, apabila Ken jadi ikut pertandingan Wushu, semoga aja dapat meraih medali sebagai kado istemewa pada hari jadi Ken yang 13 ini, do'a Mamanya.

Ma......, untuk kado, Mama berikan apa pada Ken, ucapnya setengah bertanya.

Sejenak perempuan itu tertunduk diam. Ditatapnya wajah anaknya dalam-dalam dengan pandangan mata sayu. Binar mata perempuan itu berkaca-kaca. Benturan matanya sekilas dialihkan keluar jendela pada kegelapan malam yang dingin.

Untuk saat ini, Mama hanya berdo'a untuk kesehatanmu ya nak,  dan apabila mendapat rezeki dari Allah, kita akan pergi liburan bersama papa dan adik ya, ucap mamanya menghibur saat melihat kegelisahan diwajah anaknya tersayang.

"Tak apalah Ma, Ken rasa do'a Mama dan Papa serta adik mudah-mudahan dapat dikabulkan Allah, Namun yang terpenting bagi Ken, bukanlah liburannya atau raihan medalinya.

Akantetapi yang terpenting bagi Ken, Mama dan Papa selalu bisa mencurahkan kasih sayang terhadap Ken bersama adik Permana, serta dapat selalu hidup rukun, dan damai. Jawab anak itu dengan penuh kesungguhan sambil bergeser memeluk mamaknya yang juga duduk diatas tempat tidur yang Ia duduki semenjak sore tadi.

"Terima kasih ya nak, jawab Mamanya terenyuh mendengar pinta anaknya yang setengah galau berbaring di atas tempat tidur. 
Diluar angin malam terdengar berkesiur menerpa pucuk-pucuk ketapang rindang membuat daunnya yang kering gugur berhamburan berserakan. Malam perlahan menggamit ke ambang larut, dan anak itu mulai terkantuk-kantuk." 

Malam telah jauh larut anakku, tidurlah putriku tidurlah sayangku." pinta perempuan itu sembari menelungkup mencium kening anaknya yang telah mulai terlelap dari tidurnya, berharap, esok menjelang merupakan hari yang indah bagi keluarganya. **
 
Top