Oleh : Zardi Syahrir,SH.MM
( Peserta Diklat PIM III Pola Baru, Angkatan II Tahun 2016)

DINAMIKA perkembangan pengelolaan informasi kegiatan pembangunan daerah sesuai survey yang dilakukan Indonesia Indikator awal tahun 2016 (lembaga yang melakukan analisis media massa di Indonesia) Sumatera Barat masih tertinggal jauh dengan provinsi-provinsi di Pulau Jawa, sementara untuk pulau Sumatera, Sumatera Barat masih berada diposisi 5 setelah Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Nanggro Aceh Darussalam, Riau.

Walaupun diakui nilai dan kualitas pemberitaan terhadap ratio positif, netral dan negatif termasuk yang terbaik di Sumatera. Hal ini dikarenakan penyelenggaraan pemerintah berjalan dengan baik dengan ratio pemberitaan negatif antara 20-35 persen. Namun dalam jumlah produktifitas pemberitaan masih amat rendah rata-rata perbulan 5.000-7.500 sebaran berita oleh media, ada juga sebaran produktifitas pemberitaan sampai lebih dari 10.000 itu terjadi pada saat peristiwa bencana saja.

Sementara untuk di daerah pulau jawa sebaran produktifitas pemberitaan kegiatan pembangunan media telah mencapai rata-rata 15.000 - 35.000 perbulan. Hal ini tentu menjadi sesuatu pemikiran bagi kita bagaimana upaya meningkatkan produktiftas penyebarluasan pemberitaan untuk menaikan rangking dan nama baik Sumatera Barat di pentas nasional. Kita menyadari Sumatera Barat amat minim dalam ABPD, namun budaya dan karakter masyarakat Sumatera Barat yang suka berbicara “Ma Ota“ menjadi sesuatu kekuatan dan potensi tersendiri untuk memperbaiki semua itu ke depan.

Banyak hal yang belum terkupas dan terangkat dalam pemberitaan media massa apa-apa yang sedang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Karena itu dalam kerjasama dan kesepahaman pemerintah dengan media massa juga hendaknya juga melakukan investasigasi dan melihat perkembangan dinamika kehidupan masyarakat. Dengan pendapat daerah yang masih kecil dibandingan dengan daerah provinsi lain, kita mesti nyaring berbicara dan menyuarakan kepentingan rakyat, sehingga daerah kita ini tidak tertinggal terjauh dari dari pembangunan di daerah provinsi lain.

Semakin banyak produktifitas pemberitaan, sesungguhnya akan mampu mendorong kemajuan pembangunan daerah serta juga akan mampu menjaga diri masyarakat dari pengaruh globalisasi informasi yang menyesatkan.

Dalam menyikapi berbagai isu global yang masuk tanpa disadari karena begitu canggihnya teknologi informasi, hal ini akan terlawan dan tertahan jika informasi pembicaraan terhadap pembangunan daerah ini mencuat tinggi. Masyarakat biasa akan memahami informasi yang mat berkaitan dengan kondisi diri atau orang terdekat dan tempat tinggal mereka, itu sesuatu kepribadian yang wajar dari manusia memiliki nilai sosial.

Informasi juga perlu dikelola secara baik dan benar, sehingga peran dan  fungsi pemerintah memberikan kenyaman dan ketentraman hidup kepada masyarakat lebih akan terjaga dengan baik. Walaupun kita menyadari sepenuhnya tugas dan fungsi wartawan dan media massa, sebagai alat kontrol sosial pembangunan tetap menjalan fungsi secara baik.

Pemerintah akan menghargai sikap kontrol sosial media, jika dilakukan dengan baik dan benar, sehingga semua itu dapat menjadi proses pembangunan dari yang kurang menjadi cukup, dari yang miskin menjadi sejahtera, dari yang buruk menjadi baik dan dari yang telah baik menjadi lebih baik lagi.  Untuk yang namanya ikut serta dan pemberdayaan pembangunan itu meman tidak terlepas dari kerjasama dan kebersamaan untuk satu tujuan mewujudkan pembangunan yang lebih baik. Demikian juga untuk “ membangkik batang tarandam, basamo mangko manjadi “.

Pembangunan dalam bidang informasi mesti menjadi perhatian bersama, dalam menumbuhkan image pembangunan yang lebih baik. Humas pemerintah mesti berperan secara aktif dan bertanggungjawab menata semua ini.

Kepada masyarakat Sumatera Barat kami mengingatkan  perintah Allahu Subahanu Wa Ta’alla Al-Qur’an Surat Al-Hujaraat (49)  yang berbunyi : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka cek dan riceklah berita itu, agar kamu tidak menimpakan suatu malapetaka kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, sehingga kamu menyesal atas perbuatan itu.” 
Jadilah masyarakat yang cerdas membaca, melihat dan memahami informasi atau pemberitaan, sehingga kita tidak terlibat dalam hal-hal salah atau menyusahkan. (***) Sebelumnya
 
Top